Jakarta, Sinata.id – Hari ini, 21 Mei 2026, menandai 28 tahun sejak Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah memimpin Indonesia selama kurang lebih 32 tahun.
Namun, momen bersejarah yang menjadi titik balik lahirnya era reformasi itu kini hanya sedikit mendapat sorotan media. Padahal, peristiwa tersebut menjadi puncak dari gelombang panjang perlawanan terhadap sistem otoritarianisme yang mengakar selama puluhan tahun di Indonesia.
Di tengah kondisi itu, sejumlah kalangan menilai nilai-nilai reformasi yang diperjuangkan pada 1998 perlahan kembali dipertanyakan relevansinya di era saat ini.
Detik-detik Lengsernya Soeharto
Pada 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto membacakan pernyataan pengunduran dirinya di hadapan publik dan pejabat negara. Dalam pidato singkat yang telah disiapkan sebelumnya, ia menyatakan resmi mundur dari jabatan presiden.
Posisi kepala negara kemudian langsung diserahkan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie, yang saat itu segera mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan nasional.
Di luar Istana, suasana haru dan euforia pecah. Ribuan mahasiswa yang sejak lama menduduki Gedung DPR/MPR di Senayan menyambut kabar tersebut dengan sorak-sorai kemenangan. Tuntutan reformasi yang mereka gaungkan akhirnya terwujud.
Krisis Ekonomi yang Menjadi Pemicu
Lengsernya Soeharto tidak terlepas dari krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak 1997. Krisis moneter Asia membuat nilai tukar rupiah anjlok tajam dari sekitar Rp2.500 per dolar AS menjadi sekitar Rp17.000 per dolar AS.
Kondisi tersebut memicu gelombang kebangkrutan perusahaan, meningkatnya pengangguran, serta melemahnya daya beli masyarakat. Situasi ekonomi yang memburuk kemudian berkembang menjadi krisis sosial dan politik yang meluas.
Tragedi Trisakti dan Gelombang Kerusuhan
Ketegangan politik mencapai puncaknya pada Mei 1998. Tragedi penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 menewaskan empat mahasiswa, yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, dan Heri Hertanto.
Peristiwa tersebut memicu gelombang kerusuhan besar di Jakarta dan sejumlah daerah lain pada 13–14 Mei 1998. Kerusuhan bernuansa sosial dan ekonomi itu menyebabkan jatuhnya korban jiwa serta kerusakan besar pada ribuan bangunan dan fasilitas umum.
Akhir Kekuasaan Orde Baru
Di tengah tekanan politik yang semakin kuat, Soeharto sempat bertolak ke Mesir pada 9 Mei 1998 untuk menghadiri KTT G-15. Namun, meningkatnya demonstrasi membuatnya mempersingkat kunjungan dan kembali ke Indonesia pada 15 Mei 1998.
Upaya untuk mempertahankan kekuasaan melalui restrukturisasi kabinet dan dukungan politik akhirnya gagal. Dukungan dari para elite politik yang sebelumnya loyal perlahan menghilang.
Pada akhirnya, Soeharto menyatakan mundur dari jabatan presiden dan meninggalkan Istana Merdeka untuk selamanya sebagai kepala negara.
Refleksi 28 Tahun Reformasi
Dua puluh delapan tahun setelah peristiwa tersebut, Indonesia kini berada pada babak politik yang berbeda. Namun, sejumlah pengamat menilai tantangan demokrasi, stabilitas ekonomi, dan kepercayaan publik terhadap institusi negara masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai.
Dalam konteks ekonomi hari ini, nilai tukar rupiah yang kembali melemah terhadap dolar AS juga kerap menjadi bahan perbandingan publik terhadap masa lalu, meski dalam situasi dan struktur ekonomi yang berbeda. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini