Jakarta, Sinata.id – Jagat media sosial mendadak riuh. Sebuah video singkat yang memperlihatkan ikan sapu-sapu hasil tangkapan Sungai Ciliwung diduga diolah menjadi bahan campuran siomay, langsung memicu kegaduhan publik. Video tersebut menyebar cepat, memantik rasa ngeri sekaligus amarah warganet yang mempertanyakan keamanan jajanan kaki lima.
Dalam rekaman yang viral itu, terlihat sejumlah ikan sapu-sapu berukuran besar ditumpuk di tepi sungai. Narasi yang menyertai unggahan menyebutkan, ikan tersebut tidak dijual sebagai ikan hias, melainkan digiling dan diolah menjadi siomay untuk diperdagangkan ke masyarakat. Konten ini sontak menuai ribuan komentar dan dibagikan lintas platform.
“Kalau benar ini buat makanan, keterlaluan,” tulis seorang pengguna media sosial, dikutip Senin (26/1/2026).
Warganet lain menimpali dengan nada lebih keras, menyebut praktik tersebut sebagai “ancaman kesehatan publik”.
Ikan Pemakan Limbah
Kegaduhan semakin membesar karena ikan sapu-sapu selama ini dikenal hidup di perairan tercemar, termasuk sungai yang menerima limbah rumah tangga dan industri. Fakta itu membuat dugaan pemanfaatannya sebagai bahan pangan terasa semakin mengerikan bagi masyarakat.
Isu ini berkembang liar. Tidak sedikit warganet yang mengaku trauma dan mulai mencurigai jajanan murah meriah di pinggir jalan. “Abis ini beli siomay rasanya waswas,” tulis akun lain yang komentarnya disukai ribuan pengguna.
Keresahan publik akhirnya dijawab kalangan medis. Seorang pakar kesehatan menegaskan bahwa masalah utama bukan sekadar soal selera, melainkan potensi bahaya kesehatan yang serius.
“Jika ikan itu hidup di sungai tercemar, tentu ada risiko membawa bakteri dan logam berat,” ujar Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, pakar penyakit dalam. Ia mengingatkan bahwa proses memasak tidak otomatis menghilangkan seluruh zat berbahaya yang terakumulasi dalam tubuh ikan.
Pernyataan tersebut justru membuat kegaduhan makin meluas. Warganet kembali membanjiri kolom komentar dengan kekhawatiran soal keamanan pangan, terutama jajanan yang dikonsumsi anak-anak.
Di tengah hebohnya isu ini, publik mulai menyoroti harga siomay yang terlampau murah. Banyak yang menduga tekanan ekonomi mendorong sebagian oknum pedagang mencari bahan baku alternatif tanpa memikirkan dampaknya.
“Kalau harganya jauh di bawah normal, patut curiga,” komentar seorang pengguna. Isu ini pun bergeser dari sekadar video viral menjadi alarm sosial soal pengawasan makanan jalanan.
Meski belum ada bukti resmi yang menyatakan seluruh siomay murah berbahan ikan sapu-sapu, kepanikan telanjur meluas. Beberapa pedagang mengaku dagangannya ikut sepi karena konsumen ketakutan.
Hingga kini, isu siomay ikan sapu-sapu masih bergulir di ruang digital. Para ahli mengimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan, namun tetap kritis dan selektif dalam memilih makanan. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini