Jakarta, Sinata.id β Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan di media sosial. Kali ini sorotan muncul dari sebuah video yang memperlihatkan paket makanan MBG di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang mencantumkan harga roti Rp3.500 pada label menu.
Masalahnya, sejumlah warganet mengklaim roti yang sama di warung sekitar hanya dijual sekitar Rp1.000-an, sehingga memicu pertanyaan publik mengenai selisih harga tersebut.
Video yang beredar luas itu menunjukkan paket makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekargalih 3 di Kecamatan Cikalongkulon. Perekam video terdengar mempertanyakan harga yang tercantum pada label makanan.
βIni masih tentang SPPG yang di Mekargalih 3. Bos, ini roti di warung harganya seribuan bos, ini tertulis Rp3.500, yang bener aja bos,β kata perekam video dalam unggahan yang viral di media sosial, dikutip Minggu (15/3/2026).
Komentar tersebut kemudian memicu perdebatan luas di internet, terutama terkait transparansi harga dalam program makanan yang dibiayai negara.
Dalam program MBG, setiap paket makanan memang dilengkapi label informasi yang memuat harga serta kandungan gizi. Tujuannya adalah memberi transparansi kepada penerima manfaat mengenai komposisi makanan yang dibagikan.
Namun justru dari label inilah perdebatan muncul.
Sebagian orang menilai harga yang dicantumkan tidak selalu sejalan dengan harga yang mereka temukan di pasaran. Dalam kasus yang viral ini, roti merek Papabear rasa susu disebut menjadi menu yang dibagikan kepada siswa pada 12 Maret 2026.
Di dalam paket yang sama, selain roti juga terdapat beberapa item lain seperti kacang, susu, dan buah yang masing-masing memiliki label harga tersendiri.
Pembagian menu tersebut terjadi pada periode Ramadan, ketika sekolah masih berjalan namun banyak siswa menjalankan ibadah puasa.
Karena itu, menu MBG disesuaikan menjadi menu kering agar dapat disimpan dan dikonsumsi saat waktu berbuka puasa. Biasanya paket tersebut berisi roti, susu, dan buah-buahan seperti jeruk atau pir.
Model menu seperti ini dipilih agar makanan tetap layak dimakan beberapa jam setelah dibagikan di sekolah.
Setelah video tersebut beredar, warganet langsung ramai membahas kemungkinan adanya perbedaan harga antara label menu dan harga pasar.
Sebagian mempertanyakan apakah harga tersebut sudah mencakup biaya distribusi dan pengemasan, sementara yang lain meminta agar pihak terkait memberikan penjelasan terbuka.
Perdebatan ini juga memperlihatkan bahwa program MBG kini berada di bawah sorotan publik yang cukup besar, terutama terkait transparansi pengadaan makanan dan kualitas menu yang diterima siswa. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini