Tapanuli Selatan, Sinata.id — Saat banjir bandang merenggut rumah, ladang, dan harapan warga Tapanuli Selatan, satu kisah justru muncul menembus derasnya linimasa media sosial. Seorang guru memilih menyerahkan bukan sumbangan uang, bukan bantuan sementara, melainkan tanah pribadinya seluas 7.500 meter persegi demi masa depan pendidikan anak-anak kampungnya.
Kisah ini viral sejak diunggah ke media sosial dan langsung menyedot perhatian publik. Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut, menyebut tindakan sang guru sebagai potret langka ketulusan di tengah tragedi.
Tokoh utama dalam kisah ini adalah Nur Ali, seorang guru dan kepala madrasah di Kecamatan Angkola Selatan. Tanpa banyak seremoni, ia menghibahkan lahannya untuk pembangunan sekolah baru setelah fasilitas pendidikan rusak diterjang banjir bandang.
Di saat banyak orang sibuk menyelamatkan harta, Nur Ali justru melepas salah satu aset terbesarnya.
“Tanah ini memang saya siapkan untuk pendidikan,” ujarnya singkat, dikutip Rabu (21/1/2026).
Kalimat sederhana itu menjadi pemantik empati warganet. Banyak yang mengaku merinding, tak sedikit pula yang menyebut langkah Nur Ali sebagai “tindakan yang tak bisa diukur dengan materi”.
Viral Tanpa Sensasi, Ramai Karena Ketulusan
Unggahan tentang aksi Nur Ali menyebar luas tanpa narasi dramatis berlebihan. Tidak ada permintaan donasi, tidak ada panggung pencitraan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat cerita ini menguat dengan sendirinya.
Kolom komentar dipenuhi doa dan pujian.
“Ini guru, bukan sekadar pengajar,” tulis salah satu akun.
“Semoga jadi amal jariyah yang tak pernah putus,” tulis warganet lainnya.
Di tengah maraknya konten sensasional, kisah ini menjadi anomali: viral karena ketulusan.
Niat Lama yang Terwujud di Saat Paling Sulit
Keputusan Nur Ali bukan muncul secara tiba-tiba. Ia mengaku niat membangun madrasah sudah ada sejak lama, bahkan sebelum banjir bandang melanda wilayah tersebut.
Pengalaman merantau dan menyaksikan pentingnya pendidikan agama membuatnya yakin bahwa kampung halamannya membutuhkan sekolah yang layak. Ketika bencana datang dan fasilitas pendidikan terdampak, niat lama itu akhirnya diwujudkan.
“Dulu di daerah kami belum ada madrasah. Itu yang terus terlintas di pikiran saya,” tuturnya.
Tanah yang dihibahkan itu kemudian diserahkan melalui mekanisme resmi kepada Kementerian Agama untuk kepentingan pembangunan sekolah.
Simbol Harapan di Tengah Puing Bencana
Bagi warga sekitar, hibah tanah tersebut bukan sekadar pembangunan fisik. Ia menjadi simbol bahwa masa depan belum sepenuhnya runtuh meski bencana baru saja berlalu.
Sekolah yang akan berdiri di atas lahan itu diharapkan menjadi ruang pemulihan, tempat anak-anak kembali belajar, dan titik awal kebangkitan komunitas.
Di tengah banyaknya berita duka akibat banjir bandang, kisah Nur Ali menjadi potongan cerita yang menenangkan — bahwa kemanusiaan tetap hidup, bahkan tumbuh, dari orang-orang sederhana.
Ketika banjir merusak segalanya, seorang guru justru membangun harapan. Dan itulah mengapa kisah ini viral — bukan karena dramanya, tetapi karena ketulusannya. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini