Jakarta, Sinata.id β Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD melakukan langkah penting dalam restrukturisasi organisasi dengan menempatkan sekitar 1.400 prajurit TNI Angkatan Darat tanpa kualifikasi komando untuk mendukung operasional satuan elite tersebut.
Kebijakan ini dikonfirmasi langsung oleh Danjen Kopassus, Letjen TNI Djon Afriandi, pada Senin (27/4/2026). Penempatan personel pendukung tersebut merupakan bagian dari proses validasi organisasi Kopassus yang telah ditetapkan dalam regulasi resmi pemerintah.
Bagian dari Validasi Organisasi Kopassus
Langkah ini merujuk pada kebijakan restrukturisasi yang tertuang dalam Perpres Nomor 84 Tahun 2025 yang ditandatangani untuk memperkuat efektivitas dan struktur satuan khusus TNI AD.
Dalam penataan terbaru ini, Kopassus juga mengalami pengembangan struktur dari sebelumnya tiga grup menjadi enam grup yang berada di bawah komando perwira tinggi berpangkat Brigadir Jenderal.
Prajurit Pendukung Tidak Wajib Pendidikan Komando
Letjen Djon Afriandi menegaskan bahwa 1.400 prajurit tersebut tidak diwajibkan mengikuti pendidikan komando yang dikenal sangat ketat dan berlangsung hingga tujuh bulan. Meski begitu, mereka tetap menjadi bagian resmi dari organisasi Kopassus sebagai personel pendukung operasional.
Namun, terdapat aturan tegas terkait atribut militer yang digunakan. Prajurit non-kualifikasi komando tidak diperbolehkan memakai baret merah, brevet komando, maupun pisau komando yang selama ini menjadi simbol khas pasukan elite tersebut.
βBaret merah dan atribut komando merupakan satu kesatuan identitas yang hanya diberikan kepada prajurit yang lulus kualifikasi,β tegas Danjen Kopassus dalam keterangannya.
Simbol Penghargaan Tanpa Kualifikasi Tempur
Sebagai bentuk penghargaan, para prajurit pendukung akan diberikan pin khusus yang dapat dikenakan pada seragam dinas. Simbol ini menjadi tanda keterikatan mereka dengan satuan Kopassus tanpa menyandang status pasukan komando.
Seleksi Komando Tetap Sangat Ketat
Sementara itu, proses seleksi untuk menjadi prajurit komando tetap dipertahankan dengan standar tinggi. Calon prajurit harus melalui serangkaian tes fisik, mental, dan psikologi yang berat, termasuk latihan ekstrem yang dikenal sebagai tahap βMinggu Nerakaβ.
Dalam tahap tersebut, peserta menjalani latihan ketahanan di medan berat seperti rawa hingga simulasi interogasi fisik sebagai bagian dari pembentukan mental tempur.
Tujuan: Menjaga Nilai Sakral Baret Merah
Kebijakan ini juga bertujuan menjaga nilai sakral dan kehormatan baret merah sebagai simbol prajurit elit. Kopassus menegaskan bahwa status komando hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar lulus seluruh tahapan seleksi berat dan standar operasional khusus. (A07)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini