Washington, Sinata.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela, Petahana Januari 2026”.
Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di media sosial Truth Social, Senin (12/1/2026), yang menampilkan potret resmi Trump beserta keterangan masa jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 dan ke-47, mirip tampilan halaman Wikipedia yang diedit.
Halaman Wikipedia resmi tidak mencantumkan Trump sebagai presiden sementara Venezuela, dan belum ada badan internasional yang mengakui klaim tersebut.
Unggahan ini muncul menyusul operasi militer AS yang dilakukan oleh Delta Force untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke New York untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba federal, setelah berbulan-bulan tekanan, sanksi, dan aktivitas militer AS terhadap Venezuela.
Baca juga:Operasi Militer AS di Venezuela Dinilai Bertujuan Hentikan Pasokan Minyak ke China
Maduro mengklaim dirinya “diculik”. Tindakan AS itu mendapat kecaman dari China, Rusia, Kolombia, dan Spanyol, yang menilai operasi tersebut melanggar hukum internasional.
Beberapa jam setelah operasi, Trump menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela untuk sementara waktu, dengan alasan keamanan dan kebutuhan transisi yang terkendali. Trump juga menegaskan bahwa AS akan mengawasi serta menjual minyak Venezuela ke pasar global selama periode sementara tersebut.
Di dalam negeri Venezuela, orang kepercayaan Maduro, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai Presiden sementara. Rodriguez menolak klaim Trump, menuntut pembebasan Maduro, dan menyatakan dirinya sebagai pemimpin sah negara tersebut.
Trump memperingatkan bahwa Rodriguez dapat menghadapi konsekuensi lebih berat jika tidak bekerja sama, bahkan lebih dari yang dialami Maduro, yang ditahan di New York atas tuduhan terorisme narkoba dan perdagangan narkoba.
Trump juga mengeklaim bahwa pembebasan sejumlah tahanan politik di Venezuela dilakukan sebagai isyarat perdamaian setelah tindakan AS, dan memperingatkan para tahanan untuk “jangan pernah melupakannya”. Presiden AS itu meminta perusahaan minyak Amerika untuk berinvestasi hingga USD 100 miliar di Venezuela guna memperluas produksi minyak negara tersebut.
Baca juga:Singapura Ungkap Kekhawatiran Aksi AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Dalam pertemuan di Gedung Putih dengan eksekutif perusahaan minyak pekan lalu, Trump menyatakan bahwa AS akan memutuskan perusahaan mana yang diizinkan beroperasi di Venezuela serta membantu membangun kembali sektor minyak yang memburuk.
Ia menegaskan kesepakatan sementara dengan Venezuela untuk memasok 50 juta barel minyak mentah ke AS, dengan pengiriman yang dapat berlangsung tanpa batas waktu.
Langkah ini diharapkan dapat menurunkan harga energi di AS. Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang melindungi dana dari penjualan minyak Venezuela yang tersimpan di AS.
Selain itu, Trump juga menanggapi candaan soal Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menjadi Presiden Kuba, dengan komentar: “Kedengarannya bagus bagi saya.”
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terhadap unggahan Trump tersebut.
Baca juga:Setelah Venezuela, Trump Sebut Target Selanjutnya Kuba, Kolombia, Meksiko, dan Iran
Operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari lalu melibatkan pengeboman fasilitas militer dan pengerahan pasukan di Caracas untuk menangkap Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian diterbangkan ke New York untuk diadili terkait tuduhan perdagangan narkoba dan senjata.
Menindaklanjuti penangkapan Maduro, Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela melalui proses domestik yang sah, yakni Mahkamah Agung dan mekanisme suksesi konstitusional, bukan oleh Trump.
Pemerintahan baru Venezuela bertekad untuk tetap menjalin komunikasi dengan AS selama periode transisi, dengan tim diplomatik dan keamanan AS telah melakukan perjalanan ke Caracas untuk menilai operasional Kedutaan Besar AS. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini