Teheran, Sinata.id – Pasukan Amerika Serikat (AS) dilaporkan berada dalam posisi siaga untuk melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat pada akhir pekan ini.
Namun, Presiden Donald Trump disebut belum mengambil keputusan akhir terkait langkah tersebut.
Laporan kantor berita Turki, Anadolu, mengutip pemberitaan CNN yang menyebutkan bahwa kekuatan udara dan laut AS telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari kesiapan militer.
Pada Kamis (19/2/2026), Trump menggelar pertemuan guna meninjau perkembangan terbaru terkait Iran. Berdasarkan laporan Axios, pertemuan tersebut membahas berbagai opsi, mulai dari jalur diplomasi hingga kemungkinan tindakan militer.
Baca juga:Rusia Minta AS Tak Bermain Api Lawan Iran
Pertemuan itu dihadiri oleh utusan Timur Tengah Steve Witkoff, penasihat senior Jared Kushner, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Mereka memberikan laporan mengenai pembicaraan nuklir dengan delegasi Iran di Jenewa serta opsi kebijakan yang dapat diambil Washington.
Sejumlah pejabat memperingatkan bahwa langkah militer terhadap Iran berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas dibandingkan operasi terbatas yang pernah dilakukan AS di Venezuela pada Januari lalu.
Selain isu Iran, Trump juga menerima laporan mengenai perkembangan perang Rusia–Ukraina serta pembentukan Dewan Perdamaian yang digagasnya untuk menangani krisis di Gaza, Palestina.
Peringatan Rusia
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, memperingatkan bahwa serangan militer baru terhadap Iran dapat membawa konsekuensi serius bagi stabilitas global.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada Rabu (18/2/2026), Lavrov menyerukan pengendalian diri dan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Baca juga:Trump Terlibat Tak Langsung, Iran dan AS Lanjutkan Negosiasi Nuklir
Ia menilai eskalasi militer sangat berbahaya, terutama karena sejumlah serangan sebelumnya disebut telah menyasar fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Menurut Lavrov, risiko insiden nuklir nyata apabila ketegangan terus meningkat. Ia juga menekankan bahwa negara-negara Arab dan monarki Teluk tidak menginginkan peningkatan konflik di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan kepada televisi Al-Arabiya Arab Saudi, sehari setelah negosiator AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa sebagai upaya meredam krisis.
Diplomasi atau Eskalasi?
Ketegangan yang meningkat dikhawatirkan dapat menghambat kemajuan diplomatik yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir, termasuk perbaikan hubungan antara Iran dan Arab Saudi.
Di sisi lain, seorang pejabat senior AS menyebut Iran diharapkan segera mengajukan proposal tertulis untuk memecahkan kebuntuan perundingan. Meski demikian, Washington tetap memperkuat kesiagaan militernya di Timur Tengah.
Baca juga:Hizbullah Soroti Ketegangan AS-Iran dan Peran Israel di Baliknya
Pejabat tersebut menyatakan bahwa seluruh pasukan AS yang dikerahkan ke kawasan harus berada dalam posisi siap pada pertengahan Maret.
AS terus mendesak Iran menghentikan program nuklirnya. Namun, Teheran membantah tudingan bahwa mereka mengembangkan senjata atom dan menegaskan program nuklirnya bertujuan damai.
Lavrov menambahkan bahwa Rusia tetap menjalin komunikasi intensif dengan Iran dan meyakini Teheran berkomitmen pada Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini