Teheran, Sinata.id – Upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mengalami kebuntuan. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menolak syarat-syarat yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terkait kesepakatan nuklir baru.
Penolakan ini terungkap dari sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, sebagaimana dilaporkan portal berita Axios, Rabu (4/2/2026).
Meski jalur diplomatik masih dibuka, sumber-sumber tersebut menyatakan negosiasi belum menunjukkan kemajuan berarti.
Laporan tersebut juga membantah kabar bahwa Trump telah mengutus Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan penasihat Jared Kushner untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Pertemuan yang sempat diagendakan pada Jumat mendatang dikabarkan tidak terjadi.
Di sisi lain, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dikabarkan telah menginstruksikan Menlu Araghchi untuk segera mewujudkan negosiasi dengan AS.
Instruksi itu diberikan menyusul permintaan dari sejumlah negara di kawasan agar Iran merespons proposal Trump.
Namun, Pezeshkian menegaskan negosiasi harus dilandasi prinsip keadilan, kesetaraan, dan bebas dari ancaman.
“Dalam kerangka kepentingan nasional kita,” tulis Presiden Iran di media sosial X, menekankan posisi negosiasi Tehran.
Kebuntuan diplomasi ini terjadi di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah. Israel disebut mendorong aksi yang lebih tegas terhadap Iran, meskipun Trump hingga saat ini belum melihat urgensi untuk melakukan operasi militer.
Sejumlah negara regional, termasuk Turki, dilaporkan aktif berupaya menjadi penengah meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini