Jakarta, Sinata.id β Ramadan membawa semangat ibadah yang tinggi, namun bagi ibu menyusui, bulan puasa sering menimbulkan pertanyaan: apakah aman berpuasa tanpa mengganggu kebutuhan si kecil?
Melansir Kumparan, dr Aisya Fikritama SpA mengatakan, keputusan ibu menyusui untuk berpuasa harus mempertimbangkan beberapa faktor, seperti usia bayi, frekuensi menyusu, serta kondisi kesehatan ibu. Tidak semua ibu menyusui cocok berpuasa, dan setiap keputusan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh serta kebutuhan bayi.
Memahami Kualitas ASI Saat Puasa
Salah satu kekhawatiran umum adalah apakah puasa menurunkan kualitas ASI. Dokter Aisya menegaskan, bagi ibu sehat dengan asupan cukup saat sahur dan berbuka, kualitas ASI tetap stabil.
Protein dan lemak dalam ASI dipertahankan oleh mekanisme tubuh, meski frekuensi menyusu bisa berkurang jika ibu terlalu lelah atau kurang cairan. Disarankan, ibu mengonsumsi 2-3 liter cairan per hari dan tambahan kalori sekitar 500-600 kilokalori.
Makronutrien ASI seperti protein, lemak, dan karbohidrat tetap relatif stabil meski ibu berpuasa, sementara beberapa mikronutrien bisa berkurang jika asupan sangat kurang dalam jangka panjang.
Namun, tubuh akan lebih dulu memprioritaskan produksi ASI, sehingga kondisi ibu biasanya yang terdampak terlebih dahulu jika kekurangan nutrisi atau cairan.
Baca:Β http://3 Kreasi Pisang Praktis untuk Takjil, dari Goreng Madu hingga Bolu Kukus
Tanda Bayi dan Pemantauan Kecukupan ASI
Kebiasaan bayi rewel saat menyusu tidak selalu menandakan ASI berkurang. Banyak faktor yang memengaruhi, termasuk fase growth spurt, rasa tidak nyaman, atau kebutuhan frekuensi menyusu yang meningkat.
Evaluasi tanda-tanda kecukupan ASI dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah BAK bayi (4-6 kali per hari) dan kenaikan berat badan yang stabil.
Ibu dengan bayi di bawah usia 6 bulan perlu lebih waspada karena bayi masih sepenuhnya bergantung pada ASI. Pemantauan kondisi ibu dan kecukupan ASI menjadi lebih penting dibanding bayi yang sudah menerima MPASI.
Mitos dan Fakta Seputar ASI Saat Puasa
Beberapa mitos kerap beredar, seperti ASI menjadi lebih encer ketika ibu berpuasa. Faktanya, foremilk dan hindmilk memang berbeda kekentalannya, tetapi puasa tidak langsung memengaruhi kualitas ASI selama ibu cukup hidrasi.
Bagi ibu dengan riwayat anemia atau kurang gizi, berpuasa perlu dievaluasi secara hati-hati. Kekurangan gizi atau kondisi anemia yang tidak terkontrol dapat memengaruhi stamina dan produksi ASI.
Kondisi yang Membolehkan Ibu Tidak Berpuasa
Dokter Aisya menekankan, ibu menyusui sebaiknya tidak memaksakan puasa jika muncul tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, urine pekat, pusing, lemas, atau hampir pingsan. Kondisi ini bisa menurunkan produksi ASI dan memengaruhi berat badan bayi. Keselamatan ibu dan bayi harus menjadi prioritas.
βKalau ibu menyusui, terutama yang punya bayi di bawah 6 bulan, sangat tidak disarankan untuk puasa jika muncul tanda-tanda dehidrasi. Dalam kondisi itu, batalkan puasa demi kesehatan ibu dan bayi,β tutupnya. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini