Info Market CPO
πŸ—“ Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.3K β€’ 0.2K β€’DMI β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K Β· LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Skrining Kemenkes Ungkap 700 Ribu Anak Terindikasi Alami Gejala Mental

skrining kemenkes ungkap 700 ribu anak terindikasi alami gejala mental
Ilustrasi anak cemas

Jakarta, Sinata.id – Pemeriksaan kesehatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 mengungkap indikasi gangguan kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia.

Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan menemukan ratusan ribu di antaranya menunjukkan gejala kecemasan maupun depresi.

Advertisement

Data Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 700 ribu anak terindikasi mengalami gangguan mental.

Rinciannya, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala gangguan kecemasan, sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak lainnya terdeteksi memiliki gejala depresi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai temuan tersebut menunjukkan besarnya persoalan kesehatan mental pada anak yang perlu segera ditangani. β€œIni menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujarnya dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis (12/3/2026).

Baca Juga  Kapolres Pakpak Bharat: Kami Siap Lindungi Warisan Adat Marga Pakpak

Pemerintah juga menyoroti potensi dampak serius apabila gangguan kesehatan mental pada anak tidak ditangani sejak dini.

Berdasarkan hasil Global School-Based Student Health Survey, persentase anak yang pernah mencoba bunuh diri meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah menilai pendekatan penanganan tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga pada lingkungan keluarga dan sekolah.

Edukasi mengenai keterampilan hidup serta kemampuan memberikan pertolongan pertama pada luka psikologis dinilai penting untuk memperkuat dukungan terhadap anak.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kesehatan menargetkan perluasan skrining kesehatan mental anak hingga menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia.

Baca Juga  Bukan Virus Baru, H3N2 Subclade K Ditemukan di 8 Provinsi, Anak-Anak Paling Terdampak

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menyatakan hasil pemeriksaan akan segera ditindaklanjuti oleh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, terutama puskesmas.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya memperkuat layanan kesehatan mental di tingkat dasar. Saat ini jumlah psikolog klinis yang bertugas di puskesmas masih terbatas, yakni sekitar 203 orang secara nasional.

Untuk sementara, masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat terkait kesehatan mental dapat mengakses layanan krisis melalui platform Healing119.id. (a58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini