Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
News

Sialnya Juladi Siagian dan Imelda Tobing, Diusir Warga Sekampung Karena Dituding Kerap Bikin Resah

juladi siagian dan istrinya disebut kerap menimbulkan keresahan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Juladi Siagian dan istrinya disebut kerap menimbulkan keresahan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Semarang, Sinata.id — Ketegangan sosial di lingkungan RT 07/RW 01, Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, terjadi dengan penolakan terbuka terhadap pasangan suami istri, Juladi Boga Siagian dan Imelda Tobing.

Penolakan itu bahkan disampaikan secara terang-terangan melalui pemasangan spanduk di lingkungan setempat.

Advertisement

Tulisan pada spanduk yang terpasang menyatakan, “Warga RT 07/RW 01 Kelurahan Bendan Ngisor menolak warga atas nama Juladi Boga Siagian. Warga menghimbau untuk yang bersangkutan segera pindah dari RT 07/RW 01 Kelurahan Bendan Ngisor.”

Sugito, Ketua RT 07, membenarkan bahwa pemasangan spanduk tersebut merupakan hasil musyawarah warga. Ia mengaku sudah tidak mampu lagi menengahi konflik yang berlarut-larut.

“Itu hasil kesepakatan bersama warga. Saya tidak bisa melarang jika memang sudah menjadi aspirasi lingkungan,” ujar Sugito, dikutip pada Jumat, 8 Agustus 2025.

Didera Konflik Sosial Bertahun-Tahun

Juladi dan Imelda disebut kerap menimbulkan keresahan di lingkungan tempat tinggal mereka. Sejumlah warga mengeluhkan keberadaan anjing peliharaan mereka yang kerap dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan, serta persoalan tumpukan sampah yang mencemari lingkungan.

Baca Juga  Fenomena Viral “Uang Rp10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat” Picu Perdebatan

Tidak hanya itu, warga juga menyoroti sikap pasangan tersebut yang dianggap tertutup dan tidak pernah menjalin komunikasi atau berbaur dengan masyarakat sekitar. Seorang tetangga bahkan menyatakan bahwa selama bertahun-tahun, pasangan itu seperti hidup dalam isolasi sosial.

“Dia tidak pernah mau bergaul dengan warga. Bahkan untuk kegiatan lingkungan pun tidak pernah hadir,” ucapnya.

Klarifikasi

Juladi Boga Siagian membantah berbagai tudingan tersebut. Menurutnya, semua hewan peliharaan miliknya selalu dalam pengawasan. Ia mengaku telah membuat pembatas di sekitar rumahnya agar anjing-anjing tersebut tidak berkeliaran sembarangan.

“Ada pintu dan pagar. Saat anjing kami keluarkan, itu pun dalam pengawasan dan tidak dibiarkan begitu saja,” tegas Juladi.

Namun penjelasan itu tampaknya tidak cukup meredam keresahan warga. Situasi semakin memanas setelah konflik antara keluarga Juladi dan pemilik lahan di depan rumah mereka, Sri Rejeki, berujung pada penutupan akses jalan menuju rumah.

Baca Juga  Tiga Bulan Pascabanjir Bandang, Anak-Anak Aceh Terpaksa Belajar di Ruko dan Tenda Darurat

Akses Jalan Ditutup, Anak Dipaksa Lewati Sungai

Perseteruan antara keluarga Juladi dengan Sri Rejeki menambah daftar persoalan. Akibat penutupan akses jalan, anak perempuan mereka yang masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar, harus melewati aliran sungai demi bisa berangkat sekolah.

Video sang anak, berinisial JES (8), mengenakan seragam SD dan berjalan melewati bantaran sungai bersama ibunya, sempat viral di media sosial dan memantik simpati publik.

Imelda Tobing mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi sejak akses jalan ditutup.

“Saya harus antar anak saya turun melewati jalur sungai, lalu naik ke jembatan untuk bisa ke sekolah. Kalau pulang juga begitu. Untuk belanja pun kami hanya bisa lewat jalur itu,” ujar Imelda, Senin (28/7/2025).

Lebih jauh, Imelda menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi psikologis sang anak.

“Anak saya sekarang tidak bisa bermain keluar rumah seperti biasa. Dia sering bertanya, ‘Adik pengin main,’ tapi saya hanya bisa menyuruhnya sabar. Saya khawatir kondisi mentalnya terganggu, apalagi dia anak perempuan,” tuturnya lirih.

Baca Juga  Alasan Pria Viral di Bogor Ngaku Anak Propam, Kini Minta Maaf

Pemilik Lahan Bersikeras Tak Akan Buka Akses

Sri Rejeki, pemilik lahan yang menutup akses menuju rumah Juladi, bersikukuh tidak akan membuka kembali jalan tersebut. Melalui kuasa hukumnya, Roberto Sinaga, ia menyatakan bahwa keputusan itu diambil demi menjaga ketertiban lingkungan.

“Beberapa warga sudah melapor bahwa kondisi lingkungan di sekitar lahan klien kami sudah tidak kondusif. Bahkan ada CCTV yang dirusak. Untuk alasan keamanan, akses tersebut ditutup,” ujar Roberto, Senin (4/8/2025).

Ia juga menegaskan bahwa tanah yang menjadi akses tersebut telah memiliki status hukum yang sah atas nama Sri Rejeki, dan penggunaan lahan oleh keluarga Juladi tanpa izin dianggap sebagai pelanggaran.

“Kami sudah arahkan agar yang bersangkutan segera pindah. Tidak ada rencana untuk membuka akses kembali,” tegas Roberto. (*)


Sumber: Tribun News

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini