Teheran, Sinata.id – Serangan militer besar-besaran yang diluncurkan oleh Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) telah memperluas konflik yang semula difokuskan pada sengketa nuklir dan balistik ke dimensi perang proksi di Timur Tengah, melibatkan kelompok militan yang didukung oleh Iran seperti Hezbollah dan Hamas, serta aktor regional yang semakin terpolarisasi oleh eskalasi ini.
Dilabeli oleh pemerintah Israel sebagai serangan preemptif terhadap ancaman Iran, operasi ini menunjukkan perubahan taktik besar dalam hubungan kedua negara yang selama puluhan tahun dikenal dengan konflik “bayangan” rumpun proksi dan serangan terselubung. Namun dampaknya kini lebih luas, menarik kelompok militan ke dalam potensi konfrontasi langsung atau tidak langsung.
Salah satu kekhawatiran utama analis geopolitik adalah posisi Hezbollah. Meski secara tradisional menjadi perpanjangan tangan Iran melawan Israel di perbatasan Lebanon, laporan terbaru menunjukkan kelompok tersebut mencoba mempertahankan sikap relatif netral pada tahap awal konflik ini, setidaknya hingga saat ini, kecuali jika secara langsung diserang oleh Israel.
Baca Juga: Serangan Israel ke Iran Picu Kekhawatiran Krisis Energi, Harga Minyak Dunia Meroket
Kepemimpinan Hezbollah menegaskan bahwa mereka hanya akan terlibat langsung jika diserang dari pihak Israel, menggambarkan perubahan strategi dari respon otomatis menjadi tindakan defensif yang lebih berhati-hati demi menghindari eskalasi yang tidak terkendali.
Sementara itu, kelompok seperti Hamas berada di barisan oposisi terhadap serangan Israel, mengutuk keras aksi militer yang dilihatnya sebagai “agresi brutal” dan menggambarkan kondisi ini sebagai eskalasi yang mengancam stabilitas kawasan. Hamas menegaskan dukungan terhadap Iran dan menyerukan solidaritas lintas militan regional.
Keterlibatan kelompok militan lain yang selama ini mendapat dukungan logistik atau finansial dari Iran seperti Houthi di Yaman juga turut mengecam serangan Israel, menambah kompleksitas lanskap konflik yang kini berpotensi berubah menjadi perang proksi lebih luas.
Konflik baru ini telah memicu reaksi keras dari beberapa negara Arab dan regional. Pemerintah di Yordania, Kuwait, Lebanon, dan Uni Emirat Arab secara terbuka mengecam serangan Israel sebagai pelanggaran kedaulatan, serta memperingatkan bahwa ketegangan bisa menyeret lebih banyak negara ke dalam lingkaran konflik.
Lebih jauh lagi, para analis mencatat bahwa proksi militan Iran yang sebelumnya aktif dalam perang di Gaza, Suriah, dan Irak, termasuk jaringan “Axis of Resistance”, bisa melihat konflik ini sebagai momentum untuk memperluas operasi mereka melawan Israel, meningkatkan risiko konfrontasi multi-front.
Selama bertahun-tahun, Israel dan Iran berperang melalui serangan rahasia, operasi intelijen, dan dukungan terhadap kelompok militan yang saling bentrok di berbagai medan, sebuah “perang bayangan” tanpa konfrontasi formal langsung. Namun serangan preemptif terbaru ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai titik balik konflik ke ranah perang yang lebih terbuka dan melibatkan aktor regional secara langsung maupun tidak langsung.
Ancaman lebih lanjut termasuk kemungkinan retaliasi Iran melalui proxy di Suriah, Irak, dan Yaman serta reaksi kelompok militan di Lebanon dan Gaza yang bisa memperluas front konflik, menjadi faktor risiko besar bagi kestabilan kawasan yang sudah rapuh. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini