Jakarta, Sinata.id — Sentimen pasar Asia yang kembali positif mendorong nilai tukar rupiah menguat dua hari berturut-turut, menciptakan suasana optimisme di pasar keuangan domestik setelah sebelumnya mata uang Garuda sempat tertekan. Pergerakan ini mencerminkan sentimen global yang mulai bergeser ke arah risk-on, di mana investor kembali memasuki aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka lebih kuat di kisaran Rp 16.755 per dolar AS, menguat sekitar 0,27 persen dari posisi penutupan sebelumnya, seiring mayoritas mata uang Asia lain juga menunjukkan tren positif terhadap dolar AS.
Analis pasar uang, Lukman Leong, menyatakan bahwa sentimen global menjadi pemicu utama penguatan rupiah pagi ini. Menurutnya, risk-on muncul setelah pasar menilai kondisi gejolak ekonomi internasional mereda dan kemungkinan ketidakpastian di pasar finansial mulai turun.
Baca Juga: Minyak Rusia–Iran Dibanting Harga, Stok Mengambang di Laut China
“Penguatan rupiah kali ini dipengaruhi oleh sentimen risk-on di pasar global yang mendorong permintaan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang,” ujar Lukman, dikutip Kamis (26/2/2026).
Pergerakan rupiah yang menguat ini terjadi bersamaan dengan menguatnya mata uang regional lain seperti yen Jepang, yuan Tiongkok, hingga won Korea Selatan di pasar Asia. Kondisi ini menandakan pemulihan kepercayaan investor setelah tekanan dari beberapa pekan terakhir yang dipicu kekhawatiran ekonomi global dan meningkatnya imbal hasil dolar AS.
Lebih jauh, para pelaku pasar masih mencermati faktor kebijakan moneter global, terutama prospek suku bunga oleh bank sentral utama dunia, serta data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Langkah risk-on hari ini dinilai sebagian akibat menurunnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan besar di ekonomi dunia.
Meski demikian, analis memperingatkan bahwa tren penguatan rupiah bisa saja bersifat sementara, tergantung pada dinamika selanjutnya, termasuk data ekonomi domestik dan ekspektasi suku bunga global. Pergerakan mata uang Garuda turut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah spekulasi arah kebijakan fiskal dan moneter di Indonesia.
Sentimen positif ini sekaligus memberikan nafas baru di pasar keuangan Indonesia, setelah beberapa waktu lalu rupiah sempat tertekan dan mencatat volatilitas tinggi terhadap dolar AS. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini