Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Rentetan Kasus Siswa Keracunan MBG di Berbagai Daerah

rentetan kasus keracunan mbg (makanan bergizi gratis) massal di enam daerah memicu kekhawatiran publik.
Rentetan kasus keracunan massal siswa di enam daerah—Banggai Kepulauan, Lamongan, Garut, Sumbawa, Baubau, dan Gunungkidul—usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) memicu kekhawatiran publik. Evaluasi ketat standar kebersihan dan distribusi makanan jadi sorotan serius pemerintah pusat dan daerah. (Ilustrasi).

Sinata.id – Dalam sepekan terakhir, publik dikejutkan oleh serangkaian dugaan keracunan MBG (Makanan Bergizi Gratis) massal yang menimpa ratusan siswa di berbagai daerah setelah menyantap hidangan.

Kasus terbaru terjadi di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, yang menambah panjang daftar peristiwa serupa dan memunculkan pertanyaan serius mengenai standar kebersihan serta distribusi makanan dalam program nasional tersebut.

Advertisement

Ratusan Pelajar di Banggai Kepulauan Dilarikan ke RS

Data resmi RSUD Trikora Salakan yang dirilis Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan pada Kamis (18/9/2025) pukul 06.00 WITA mencatat 251 pelajar SD hingga SMA mengalami gejala keracunan.

Keluhan yang dialami mulai dari gatal-gatal, mual, muntah, hingga sesak napas.

Sebanyak 173 siswa telah dipulangkan setelah menjalani perawatan, sementara 78 siswa lainnya masih dirawat intensif dan menjalani observasi selama 24 jam.

Baca Juga  Menu MBG Berubah Jadi Mimpi Buruk, 118 Pelajar Kudus Dilarikan ke Rumah Sakit

Lamongan: 13 Siswa SMA Tumbang Usai Santap MBG

Di Jawa Timur, kasus serupa menimpa 13 siswa SMA Negeri 2 Lamongan pada Rabu (17/9/2025).

Para siswa dilaporkan mengeluh mual dan pusing setelah makan menu MBG.

Pihak RSI Nasrul Ummah Lamongan menyebut empat siswa telah pulang, sedangkan sisanya dirawat jalan.

Garut: 194 Siswa Keracunan Ayam Woku dan Stroberi

Masih di tanggal yang sama, 194 siswa di Kadungora, Garut, Jawa Barat, diduga keracunan usai menyantap nasi putih, ayam woku, tempe orek, sayur lalapan, dan stroberi yang disalurkan Yayasan Al Bayyinah 2 Garut.

Sebanyak 19 siswa harus mendapatkan perawatan intensif di sejumlah rumah sakit setempat.

Sumbawa: Mushola Disulap Jadi Ruang Perawatan

Pada Selasa (16/9/2025), ratusan siswa di Empang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mengalami nasib serupa.

Baca Juga  Heboh! Uang Ditempel di Tutup Ompreng Makanan Bergizi Gratis, Ini Risiko Kesehatannya

Puskesmas Empang kewalahan hingga mushola dan teras dipakai untuk merawat korban.

Rinciannya, terdapat 94 siswa MTsN 2, 20 siswa MIN 3, 11 siswa MAN 3, dan 2 siswa SMPN 3 yang terdampak dalam insiden ini.

Baubau: 37 Siswa Keracunan, Ayam Berbau Jadi Sorotan

Masih di hari yang sama, 37 siswa SMA Negeri 7 dan SD Hidayatullah Baubau, Sulawesi Tenggara, dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas.

Gejala yang dialami berupa mual, muntah, dan pusing.

Kepala Dinas Kesehatan Baubau, Fanti Frida Yanti, menyebut sampel makanan telah diambil untuk uji laboratorium.

Dugaan awal menyebut ayam dengan bau tidak sedap sebagai penyebab utama.

Gunungkidul: 19 Siswa Keracunan di Tiga Sekolah

Pada Senin (15/9/2025), 19 siswa dari tiga sekolah di Semin, Gunungkidul, Yogyakarta, juga mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Baca Juga  Jusuf Kalla Bantah Tudingan Dana Rp5 M untuk Kasus Ijazah Jokowi, Siap Laporkan Rismon Sianipar

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, memastikan sampel makanan langsung diuji di laboratorium untuk mengetahui penyebabnya.

Tuntutan Evaluasi Menyeluruh

Rangkaian peristiwa ini menjadi alarm serius bagi pemerintah pusat dan daerah.

Program MBG yang seharusnya meningkatkan gizi siswa justru memunculkan kekhawatiran publik.

Banyak pihak mendesak adanya pengawasan ketat terhadap kualitas bahan pangan, kebersihan dapur penyedia, hingga proses distribusi ke sekolah-sekolah.

Meski sebagian besar korban telah dipulangkan, gelombang kasus di enam wilayah ini menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam implementasi program nasional tersebut. (A46)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini