Jakarta, Sinata.id β Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik tajam kepada sejumlah analis ekonomi yang kerap menyampaikan prediksi suram tentang kondisi ekonomi Indonesia melalui media sosial, khususnya TikTok dan YouTube.
Menurut Purbaya, banyak analisis yang beredar di platform tersebut terlalu cepat menyimpulkan bahwa perekonomian nasional akan runtuh, tanpa melihat data secara utuh.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat memaparkan kondisi ekonomi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Dalam kesempatan itu, Purbaya menegaskan bahwa kekhawatiran terkait lonjakan harga minyak dunia bukanlah hal baru. Ia menyebut situasi serupa telah beberapa kali terjadi dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tidak selalu berujung pada kemerosotan ekonomi nasional.
βJadi kita nggak usah takut Pak. Jadi analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur, itu sama sekali nggak pernah melihat data,β kata Purbaya.
Untuk memperkuat argumennya, Purbaya menampilkan perbandingan data antara pergerakan harga minyak mentah Brent Crude Oil dan kinerja ekonomi Indonesia.
Ia mencontohkan periode 2007β2008 saat harga minyak Brent melonjak tajam hingga menembus lebih dari 220 dolar AS per barel. Meski begitu, perekonomian Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan sekitar 4,6 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut bisa terjadi karena kebijakan fiskal dan moneter yang tepat pada saat itu.
Purbaya juga menyinggung periode lain ketika harga minyak global kembali naik tinggi, yakni pada 2011 saat Brent berada di kisaran 110 hingga 120 dolar AS per barel. Pada masa tersebut, indikator ekonomi domestik juga tetap menunjukkan kinerja positif.
Ia menambahkan pengalaman serupa terjadi setelah masa COVID-19. Ketika harga minyak dunia kembali melampaui 100 dolar AS per barel, ekonomi nasional tetap mampu bertahan bahkan perlahan membaik.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Purbaya menilai gejolak harga minyak global tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Selama kebijakan ekonomi dijalankan secara tepat, dampaknya dapat dikelola.
βKalau kita punya kebijakan yang pas, baik moneter maupun fiskal, walaupun harga minyak global gonjang-ganjing, kita punya pengalaman untuk mengendalikan dampaknya terhadap perekonomian,β ujar Purbaya. (A18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini