Gaya komunikasinya yang lugas membuat kontennya kerap memicu perdebatan.
Pada 2023, Ade melangkah lebih jauh dengan masuk ke politik praktis melalui PSI.
Ia kemudian maju sebagai calon legislatif DPR RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta pada Pemilu 2024.
Langkah ini menandai transformasinya dari komentator menjadi aktor politik langsung.
Namun, langkah tersebut tidak berbuah hasil. PSI gagal memenuhi ambang batas parlemen, sehingga Ade tidak berhasil melenggang ke Senayan.
Selama periode 2024–2025, gaya komunikasi Ade tidak banyak berubah.
Ia tetap vokal dan kerap memicu polemik, yang pada akhirnya turut menyeret nama PSI dalam berbagai kontroversi.
Memasuki awal 2026, polemik kembali memuncak. Ade menjadi sorotan setelah pernyataannya terkait tokoh nasional Jusuf Kalla.
Ia dituduh memotong video ceramah Jusuf Kalla di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026.
Konten tersebut memicu kegaduhan, bahkan berujung pada pelaporan terhadap Jusuf Kalla atas dugaan penistaan agama.
Di sisi lain, Ade juga dilaporkan oleh puluhan organisasi masyarakat ke Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya.
Tekanan yang muncul tidak hanya menyasar Ade secara pribadi, tetapi juga berdampak pada citra PSI sebagai institusi politik.
Situasi tersebut akhirnya berujung pada keputusan Ade untuk mundur dari PSI pada Selasa, 5 Mei 2026.
Pengunduran dirinya telah disetujui oleh DPP PSI, dengan alasan untuk kepentingan bersama.









Jadilah yang pertama berkomentar di sini