Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
NewsSimalungun

Praktisi Hukum Sesalkan Tindakan Main Hakim Sendiri Terhadap Anak di Simpang Pane

praktisi hukum sesalkan tindakan main hakim sendiri terhadap anak di simpang pane

Simalungun, Sinata.id – Praktisi hukum Ferry SP Sinamo SH CPM CPArb sesalkan tindakan main hakim sendiri yang terjadi di Sabah Dua, Nagori (Desa) Simpang Panei, Kecamatan Panombean Pane, Kabupaten Simalungun, yang terjadi pada Jumat 24 April 2025 dini hari.

Menurut Ferry SP Sinamo, apa pun kesalahan yang dilakukan, masyarakat tidak patut melakukan tindakan penghakiman. Apalagi, salah satu yang dihakimi, adalah anak dibawa umur yang masih butuh bimbingan dan perlindungan.

Advertisement

“Sangat saya sesalkan tindakan main hakim sendiri. Apalagi, salah satu korban nya adalah seorang anak. Perbuatan main hakim sendiri adalah pelanggaran hukum,” ucap Ferry SP Sinamo, Minggu 27 April 2025.

Katanya, bila masyarakat ada menemukan maling atau perbuatan melanggar hukum lainnya, sebaiknya warga mengamankan pelaku, lalu menyerahkannya ke polisi untuk proses hukum lebih lanjut.

Baca Juga  Demo Pedagang Pasar Horas Ricuh, Satu Peserta Pingsan

“Penghakiman oleh massa bukan lah solusi yang tepat. Kalau ada maling, ya amankan. Lalu serahkan ke polisi. Jangan main hantam seperti Simpang Pane itu,” ujarnya.

Untuk itu, Sinamo berharap agar masyarakat dapat menahan diri, dan tidak terbawa emosi atau rasa marah semata. Sebab, tindakan main hakim sendiri dapat merugikan masing-masing dari massa itu sendiri.

“Karena, korban yang awalnya dituduh mencuri lalu dipukuli, bisa saja melaporkan massa yang main hakim sendiri tersebut untuk diproses secara hukum dengan membuat pengaduan ke polisi,” tuturnya.

Saran untuk Aparat Kepolisian

Lebih lanjut, Ferry SP Sinamo menyarankan kepada pihak kepolisian, agar bertindak adil dalam menangani kasus yang menimpa dua pria di Simpang Pane.

Baca Juga  Kalau PSSI Serius, Shin Tae-yong Siap Kembali!

Praktisi hukum ini menekankan tentang pentingnya penerapan hukum, dengan memperhatikan norma-norma yang berlaku. Termasuk perlakuan terhadap anak di bawah umur seperti PS yang disebut masih berusia 17 tahun.

Ferry mengingatkan, kasus yang melibatkan anak di bawah umur harus diproses sesuai dengan ketentuan UU tentang peradilan anak.

“Saya berharap pihak kepolisian dapat memproses kasus ini dengan bijaksana dan adil. Mengingat ada anak di bawa umur yang terlibat. Penanganan kasus ini harus mengacu pada aturan yang ada, termasuk dalam penentuan hukuman yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” sebutnya.

Terlebih lagi, kasus yang dituduhkan terhadap dua pria yang diamuk massa di Simpang Pane berupa pencurian angkong, yang notabene harganya tidak lebih dari Rp 2,5 juta.

Baca Juga  Epy Kusnandar Meninggal Dunia, Sosok "Kang Mus" Preman Pensiun Tutup Usia 61 Tahun

Untuk itu, Sinamo kembali mengingatkan, kalau kasus itu berpotensi tidak memenuhi unsur sebagaimana ketentuan dari Peraturan Mahkamah Agung.

“Memungkinkan tidak memenuhi unsur sesuai Peraturan MA. Lalu, tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibiarkan. Polisi harus bersikap dan bertindak, agar ada efek jera. Sedangkan pemerintah membina warganya untuk sadar hukum,” tandasnya, sembari menambahkan, hal itu dilakukan demi rasa keadilan. (*)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini