Oleh : PS Dion Ponomban
Pemuridan yang benar berbicara tentang kualitas kepengikutan kita kepada Kristus, dengan nilai, fokus, dan pemahaman yang benar. Tanpa dasar yang benar, pemuridan dapat mengalami banyak penyimpangan. Karena itu, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya tentang munculnya nabi-nabi palsu, pengajar palsu, guru-guru palsu, pendeta-pendeta palsu, bahkan mesias-mesias palsu yang dapat menyesatkan banyak orang.
Peringatan ini menjadi sangat penting bagi gereja dan kehidupan kekristenan saat ini. Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan diperhadapkan pada pengadilan Allah. Pertanyaannya, sudahkah kita siap?
Dalam pembacaan Alkitab hari ini, Yesus memberikan penegasan tentang arti mengikut Dia yang sesungguhnya.
Pembacaan Alkitab
Injil Matius 16:23-27 (TB)
> βMaka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: βEnyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.β
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: βSetiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.ββ
Makna Pemuridan yang Sejati
Ayat 24 dan 25 memiliki kaitan yang sangat erat. Mengikut Kristus bukan sekadar status sebagai orang percaya, melainkan sebuah keputusan untuk menyangkal diri, memikul salib, dan hidup sepenuhnya bagi Tuhan. Pemuridan sejati menuntut penyerahan total kepada kehendak Allah.
Ayat 25 menegaskan bahwa siapa yang hanya berusaha menyelamatkan hidupnya demi kepentingan diri sendiri akan kehilangan hidup yang kekal. Sebaliknya, mereka yang rela kehilangan nyawanya karena Kristus akan memperoleh kehidupan yang sejati di dalam Dia.
Ini berbicara tentang kualitas iman dan kesetiaan. Apakah kita sudah memiliki hati yang rela berkorban bagi Kristus? Apakah kita tetap setia sekalipun harus menghadapi tantangan, penderitaan, atau kehilangan demi mempertahankan iman?
Dalam ayat 26, Yesus menunjukkan betapa berharganya jiwa manusia. Seluruh dunia tidak dapat dibandingkan dengan nilai keselamatan jiwa. Harta, jabatan, popularitas, dan semua pencapaian dunia tidak akan mampu menggantikan jiwa yang hilang.
Karena itu, setiap orang percaya perlu memandang keselamatan sebagai hal yang paling utama dalam hidup. Keselamatan bukan sekadar identitas agama, melainkan hubungan yang benar dengan Kristus dan hidup yang terus berkenan di hadapan-Nya.
Pertanyaan Perenungan
- Apa kaitan pemuridan ayat 24 dan ayat 25?
- Apa maksud ayat 25?
- Apakah Anda sudah memiliki kualitas ayat 25 dalam hidupmu?
- Relakah Anda kehilangan nyawamu demi Kristus?
- Seberapa besar nilai hidup manusia menurut ayat 26?
- Bagaimana Anda memandang keselamatan jiwamu?
Pemuridan sejati tidak diukur dari seberapa lama seseorang menjadi orang percaya, tetapi dari seberapa sungguh ia mengikut Kristus. Dunia dapat menawarkan banyak hal, tetapi keselamatan jiwa tetap yang paling berharga. Tetaplah setia, pikul salib setiap hari, dan hiduplah dalam kebenaran Tuhan, sebab pada akhirnya setiap orang akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan hidupnya. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini