Jakarta, Sinata.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat mengenai risiko kesehatan di balik kebiasaan mengonsumsi teh sesaat setelah makan. Kandungan senyawa dalam teh diketahui dapat menghambat penyerapan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh.
Kepala Pusat Riset (PR) Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Sofa Fajriah, menjelaskan bahwa teh mengandung senyawa tanin dan kafein. Jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan, kedua zat ini secara signifikan mengganggu proses penyerapan zat gizi, terutama zat besi, kalsium, dan zinc.
“Teh yang diminum bersamaan dengan makanan bisa berdampak pada penyerapan zat gizi tertentu,” ujar Sofa seperti diwartakan CNN, dikutip pada Selasa (10/2)
Risiko Gangguan Kesehatan
Berdasarkan sejumlah riset, kandungan tanin dalam teh mampu menurunkan penyerapan zat besi dari sumber nabati—seperti sayuran, tahu, dan tempe—hingga mencapai 37 persen. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko memicu anemia dan gangguan kesehatan lainnya.
Kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif ini adalah remaja, perempuan usia produktif, serta ibu hamil yang memiliki kebutuhan zat besi tinggi. Selain masalah nutrisi, konsumsi teh langsung setelah makan juga dapat memicu:
– Gangguan pencernaan: Seperti perut kembung atau nyeri pada ulu hati.
– Masalah metabolik: Potensi kenaikan berat badan dan kadar gula darah akibat tambahan gula dalam teh manis.
Rekomendasi Waktu Konsumsi
Untuk mendapatkan manfaat optimal tanpa mengganggu pencernaan, Sofa menyarankan masyarakat untuk memberikan jeda waktu. Idealnya, teh diminum satu jam setelah makan atau 30 menit sebelum makan untuk membantu hidrasi dan kontrol porsi.
Batas konsumsi harian yang dianjurkan adalah dua hingga tiga gelas per hari. Sebagai alternatif pendamping makan yang lebih sehat, masyarakat disarankan beralih ke air putih atau jus buah segar tanpa pemanis tambahan.
Manfaat Teh
Meski memiliki risiko jika dikonsumsi di waktu yang salah, BRIN menegaskan bahwa teh tetap memiliki nilai kesehatan yang tinggi.
Kandungan katekin dan flavonoid di dalamnya berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, mengatur metabolisme lemak, serta mengurangi stres oksidatif pada pembuluh darah.
Namun pentingnya kesadaran dalam memilih waktu dan takaran konsumsi demi menjaga keseimbangan kesehatan tubuh. “Sikap ini bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi langkah sederhana untuk hidup lebih seimbang dan berkualitas,” tuturnya. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini