Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Hiburan

Minum Jamu Usai Obat Perlu Jeda, Ini Penjelasan dan Risikonya

minum jamu usai obat perlu jeda, ini penjelasan dan risikonya
Ilustrasi minum obat

Jakarta, Sinata.id – Konsumsi jamu setelah minum obat perlu diberi jeda waktu untuk mencegah gangguan penyerapan dan interaksi yang berpotensi merugikan tubuh.

Praktik yang kerap dilakukan sebagian masyarakat ini dinilai tidak boleh dilakukan secara bersamaan tanpa pertimbangan medis.

Advertisement

Penggunaan obat bertujuan membantu tubuh melawan penyakit, meredakan gejala, serta mencegah kondisi memburuk.

Di sisi lain, jamu sebagai minuman herbal berbahan alami seperti kunyit, jahe, dan temulawak juga umum dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh dan menunjang kesehatan.

Meski sama-sama memiliki manfaat, konsumsi keduanya secara berdekatan dapat memengaruhi cara kerja obat di dalam tubuh.

Sejumlah sumber medis menyebutkan, interaksi antara obat dengan zat tertentu—baik dari makanan, minuman, maupun bahan herbal—dapat mengubah efektivitas terapi.

Baca Juga  Bukan Hanya Wanita, Kenali 4 Jenis Kista yang Bisa Menyerang Pria

Beberapa jenis minuman diketahui dapat menimbulkan interaksi bila dikonsumsi bersamaan atau setelah minum obat.

Alkohol, misalnya, dapat meningkatkan risiko efek samping seperti pusing, mual, gangguan pernapasan, hingga perdarahan. Minuman berkafein seperti kopi dan teh juga dapat mengganggu penyerapan obat serta memicu jantung berdebar atau iritasi lambung.

Selain itu, jus buah sitrus tertentu dapat meningkatkan kadar obat dalam darah sehingga efek samping menjadi lebih kuat, sementara susu atau minuman tinggi kalsium dapat menghambat penyerapan obat tertentu, termasuk antibiotik.

Dalam konteks jamu, sejumlah bahan herbal seperti jahe, kunyit, sereh, temulawak, ginseng, hingga bawang putih berpotensi berinteraksi dengan obat medis.

Interaksi ini dapat memperkuat efek obat, menurunkan khasiatnya, atau meningkatkan risiko efek samping, tergantung jenis obat dan kondisi individu.

Baca Juga  Waspada Kurma Tak Layak Konsumsi? Simak 5 Tanda Ini Sebelum Membeli

Untuk mengurangi risiko tersebut, disarankan memberi jeda waktu sekitar satu hingga dua jam antara konsumsi obat dan jamu.

Langkah ini dinilai membantu menjaga efektivitas obat sekaligus meminimalkan kemungkinan interaksi yang tidak diinginkan.

Kendati demikian, kebutuhan setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, jenis obat, dan riwayat penyakit. Konsultasi dengan tenaga medis seperti dokter atau apoteker diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan obat dan herbal secara bersamaan. (A58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini