Jakarta, Sinata.id – Konsumsi jamu setelah minum obat perlu diberi jeda waktu untuk mencegah gangguan penyerapan dan interaksi yang berpotensi merugikan tubuh.
Praktik yang kerap dilakukan sebagian masyarakat ini dinilai tidak boleh dilakukan secara bersamaan tanpa pertimbangan medis.
Penggunaan obat bertujuan membantu tubuh melawan penyakit, meredakan gejala, serta mencegah kondisi memburuk.
Di sisi lain, jamu sebagai minuman herbal berbahan alami seperti kunyit, jahe, dan temulawak juga umum dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh dan menunjang kesehatan.
Meski sama-sama memiliki manfaat, konsumsi keduanya secara berdekatan dapat memengaruhi cara kerja obat di dalam tubuh.
Sejumlah sumber medis menyebutkan, interaksi antara obat dengan zat tertentu—baik dari makanan, minuman, maupun bahan herbal—dapat mengubah efektivitas terapi.
Beberapa jenis minuman diketahui dapat menimbulkan interaksi bila dikonsumsi bersamaan atau setelah minum obat.
Alkohol, misalnya, dapat meningkatkan risiko efek samping seperti pusing, mual, gangguan pernapasan, hingga perdarahan. Minuman berkafein seperti kopi dan teh juga dapat mengganggu penyerapan obat serta memicu jantung berdebar atau iritasi lambung.
Selain itu, jus buah sitrus tertentu dapat meningkatkan kadar obat dalam darah sehingga efek samping menjadi lebih kuat, sementara susu atau minuman tinggi kalsium dapat menghambat penyerapan obat tertentu, termasuk antibiotik.
Dalam konteks jamu, sejumlah bahan herbal seperti jahe, kunyit, sereh, temulawak, ginseng, hingga bawang putih berpotensi berinteraksi dengan obat medis.
Interaksi ini dapat memperkuat efek obat, menurunkan khasiatnya, atau meningkatkan risiko efek samping, tergantung jenis obat dan kondisi individu.
Untuk mengurangi risiko tersebut, disarankan memberi jeda waktu sekitar satu hingga dua jam antara konsumsi obat dan jamu.
Langkah ini dinilai membantu menjaga efektivitas obat sekaligus meminimalkan kemungkinan interaksi yang tidak diinginkan.
Kendati demikian, kebutuhan setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, jenis obat, dan riwayat penyakit. Konsultasi dengan tenaga medis seperti dokter atau apoteker diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan obat dan herbal secara bersamaan. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini