Washington DC, Sinata.id – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, di kantor Kementerian Luar Negeri AS, Kamis yang lalu.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif, dengan agenda utama memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–Amerika Serikat.
Kedua diplomat membahas sejumlah isu prioritas, mulai dari perdagangan dan investasi, kerja sama pertahanan dan keamanan, hingga energi serta perkembangan situasi kawasan dan global.
Dalam sektor ekonomi, kedua pihak menyoroti pentingnya menciptakan hubungan dagang yang lebih adil dan saling menguntungkan. Pembahasan juga mencakup dorongan percepatan implementasi kesepakatan perdagangan yang bersifat resiprokal.
Sugiono menegaskan Indonesia berkomitmen menjaga kelancaran arus perdagangan sekaligus membuka ruang investasi yang lebih luas di sektor-sektor strategis seperti pertanian dan energi.
“Kami berupaya memastikan kemitraan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat semakin kokoh, setara, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat kedua negara,” kata Sugiono.
Selain isu ekonomi, pertemuan turut membahas perkembangan di Gaza, Palestina. Dalam kesempatan tersebut, Rubio menyampaikan apresiasi atas peran aktif Indonesia dalam Board of Peace serta kontribusinya terhadap proses stabilisasi dan rekonstruksi wilayah tersebut.
Menanggapi hal itu, Sugiono menekankan bahwa keberadaan Board of Peace krusial untuk menjamin perlindungan warga sipil dan memastikan akses bantuan kemanusiaan tetap terbuka.
Ia juga menegaskan bahwa setiap langkah stabilisasi harus menjadi bagian dari upaya lebih luas menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
“Proses stabilisasi harus mengarah pada solusi jangka panjang melalui Solusi Dua Negara,” tegasnya.
Pertemuan ini menjadi penegasan komitmen Indonesia dan Amerika Serikat untuk menjaga dialog strategis tetap intensif. Kedua negara sepakat mempererat komunikasi lintas sektor agar kemitraan bilateral tetap solid, responsif, dan relevan di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah. (Kemlu/A18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini