Oleh: Pdt. Manser Sagala, M.Th.
Mengasihi Tuhan dengan kasih Agape adalah bentuk pengabdian tertinggi yang dapat diberikan manusia. Berbeda dengan philia (persahabatan) atau eros (romantis), kasih Agape merupakan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, tanpa syarat, serta didasarkan pada keputusan kehendak, bukan sekadar perasaan.
Berikut penjelasan mengenai kasih Agape kepada Tuhan berdasarkan Firman Tuhan:
- Hakikat Kasih Agape: Kasih yang Melampaui Perasaan
Kasih Agape kepada Tuhan bukan berarti kita harus selalu merasa haru atau emosional. Kasih ini berorientasi pada komitmen dan ketaatan.
Matius 22:37
“Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’”
Kata “kasihilah” dalam ayat ini berasal dari bahasa Yunani agapaseis, yang merupakan perintah untuk menyerahkan seluruh eksistensi manusia emosi (hati), spiritual (jiwa), dan intelektual (akal budi) sepenuhnya kepada Tuhan.
- Bukti Kasih Agape adalah Ketaatan
Dalam Alkitab, kasih Agape kepada Tuhan tidak pernah terpisahkan dari tindakan nyata. Seseorang tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan tanpa menghidupi perintah-Nya.
Yohanes 14:15
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Kasih Agape mendorong seseorang untuk tetap taat dan menyenangkan hati Tuhan, bahkan dalam situasi sulit atau ketika keinginan pribadi bertentangan dengan kehendak-Nya.
- Kasih Agape sebagai Respons atas Kasih Allah
Manusia tidak akan mampu memberikan kasih Agape kepada Tuhan tanpa terlebih dahulu menerima kasih tersebut dari-Nya. Kasih Agape bersumber dari Allah sendiri.
1 Yohanes 4:19
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
Kasih Agape kepada Tuhan merupakan respons atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Kita mengasihi-Nya bukan untuk memperoleh keselamatan, melainkan sebagai ungkapan syukur karena telah diselamatkan.
- Manifestasi Kasih Agape melalui Sesama
Tuhan menegaskan bahwa salah satu bentuk nyata kasih kepada-Nya adalah dengan mengasihi sesama. Tidak mungkin seseorang mengaku mengasihi Tuhan yang tidak terlihat, tetapi membenci sesamanya yang terlihat.
1 Yohanes 4:20
“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.”
Kasih Agape bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup yang mengutamakan Tuhan menjadi bukti nyata bahwa kasih kepada-Nya sungguh-sungguh diwujudkan.
Kasih Agape bukan hanya tentang berkata “aku mengasihi Tuhan”, tetapi tentang menjalani kehidupan setiap hari sebagai bukti bahwa Tuhan adalah yang terutama di atas segalanya. (A27)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini