Pematangsiantar, Sinata.id β Langit siang di Pematangsiantar tampak teduh pada Jumat ini. Usai mengikuti ibadah Jumat Agung, langkah-langkah para peziarah mengalir menuju dua kawasan pemakaman, TPU Jalan Parsoburan, Kecamatan Siantar Marihat, dan TPU di Jalan Narumonda, Kecamatan Siantar Selatan.
Di antara nisan-nisan yang berdiri sunyi, ratusan umat Kristiani datang membawa rindu yang tak pernah benar-benar usai.
Sebagian dari mereka menempuh perjalanan jauh. Dari Medan, Belawan, Tarutung, hingga Tebing Tinggi, hanya untuk kembali sejenak ke pelukan kenangan.
Di atas tanah yang menyimpan kisah hidup orang-orang terkasih, tangan-tangan itu mulai bekerja. Rumput liar disingkirkan, dedaunan kering disapu, dan batu nisan dibersihkan perlahan, seolah merawat kembali hubungan yang tak terputus oleh waktu.
Setelahnya, doa-doa pun dipanjatkan dalam hening, lirih, namun penuh makna.
Bagi mereka, ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan cara merawat ingatan.
βJumat Agung adalah momen suci untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus,β tutur J Sitorus, peziarah asal Medan.
βIni tentang kasih, pengampunan, dan ketulusan,β tambahnya.
Ia datang bersama keluarga, kembali ke kota kelahirannya di Pematangsiantar, untuk menziarahi makam orang tua dan mertua.
Meski kini menetap di Medan, langkahnya seakan selalu tahu jalan pulang, setidaknya sekali dalam setahun.
βSepulang ibadah, kami langsung berangkat ke sini. Setiap Paskah, kami selalu datang,β ujarnya pelan.
Di antara doa dan sunyi, ziarah itu menjadi ruang perjumpaan antara yang hidup dan kenangan yang tetap tinggal. (SN17)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini