Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH
Di tengah kehidupan modern yang sarat persaingan dan orientasi keuntungan, ajaran kasih dalam Alkitab kembali mengingatkan manusia untuk menempatkan kepentingan sesama di atas kepentingan pribadi. Prinsip ini tertuang jelas dalam 1 Korintus 10:24 yang berbunyi, “Jangan seorang pun mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” Ayat tersebut menjadi dasar etika hidup Kristen yang menekankan kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, prinsip ekonomi sering diartikan sebagai upaya memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Secara teori, hal itu dianggap wajar dalam dunia bisnis. Namun, ketika prinsip tersebut dijalankan tanpa memperhatikan kondisi dan kesulitan orang lain, nilai kemanusiaan dapat terabaikan. Alkitab mengingatkan bahwa keserakahan dan keuntungan yang diperoleh dengan cara tidak benar dapat membawa kehancuran, baik bagi individu maupun keluarganya.
Kitab Amsal menegaskan bahwa orang yang mengejar keuntungan gelap akan menimbulkan kekacauan dalam hidupnya. Ajaran ini menempatkan integritas dan kejujuran sebagai fondasi dalam setiap aktivitas ekonomi maupun sosial. Demikian pula, dalam kitab Ayub, tersirat bahwa hidup benar bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan sebagai wujud kesetiaan kepada Tuhan dan kepedulian kepada sesama.
Nilai kasih yang tidak mencari keuntungan sendiri juga tercermin dalam semangat kebersamaan yang menempatkan kesejahteraan bersama sebagai tujuan. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, prinsip ini dapat diterapkan melalui sikap adil dalam berdagang, membantu yang lemah, serta tidak memanfaatkan kesulitan orang lain demi keuntungan pribadi.
Para tokoh gereja dan pengajar rohani menilai bahwa ajaran kasih seperti ini sangat relevan di tengah kondisi sosial yang kerap diwarnai persaingan tidak sehat. Mereka menekankan bahwa kasih sejati bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.
Dengan menerapkan prinsip kasih yang tidak mencari keuntungan sendiri, masyarakat diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih harmonis, jujur, dan saling menolong. Nilai tersebut tidak hanya memperkuat kehidupan pribadi, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang lebih adil dan manusiawi.
Kasih sejati bukan diukur dari seberapa besar keuntungan yang kita peroleh, melainkan dari seberapa besar kebaikan yang kita bagikan. Seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul 20:35, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Shalom. (A27)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini