Pemerintah didorong menjalankan tata kelola yang jujur, transparan, dan berpihak kepada rakyat kecil.
Di bidang demokrasi, KWI menilai ruang dialog publik semakin menyempit dan perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan.
KWI mengingatkan pentingnya menjaga demokrasi yang sehat, menghormati kebebasan berekspresi, dan menolak kecenderungan otoritarianisme maupun sentralisasi kekuasaan.
Tak hanya itu, KWI turut menyoroti kerusakan lingkungan akibat deforestasi, eksploitasi sumber daya alam, hingga proyek pembangunan yang dinilai minim konsultasi publik.
Dalam seruan itu disebutkan proyek panas bumi di Flores dan proyek food estate di Papua sebagai contoh yang perlu dievaluasi agar tidak mengorbankan masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Mengutip pesan Pope Francis dalam ensiklik Laudato Si’, KWI menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat dengan cinta dan tanggung jawab.
Melalui momentum Kebangkitan Nasional, KWI mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas, merevitalisasi demokrasi Pancasila, mendorong dialog dan rekonsiliasi, serta memperkuat nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan demi menjaga Indonesia tetap adil, damai, dan bermartabat.
Seruan pastoral tersebut ditandatangani Ketua KWI, Antonius Subianto Bunjamin, dan Sekretaris Jenderal KWI, Adrianus Sunarko, di Jakarta, 20 Mei 2026. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini