Jakarta, Sinata.id – Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi kritisi lambannya pengungkapan penyebab kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada akhir April 2026 lalu.
Insiden tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Mayoritas korban diketahui berada di gerbong belakang KRL yang mengalami kerusakan paling parah akibat benturan keras.
Menurut Mori, proses investigasi seharusnya sudah mampu menghasilkan kesimpulan terkait penyebab kecelakaan karena kasus tersebut dinilai tidak terlalu rumit.
Ia mempertanyakan alasan pemerintah yang hingga kini masih menyebut penyelidikan terus berjalan.
Dalam keterangannya yang dikutip dari Parlementaria pada Jumat (15/5/2026), politisi Fraksi Partai NasDem itu menilai pihak terkait, termasuk Basarnas dan KNKT, diyakini telah mengetahui faktor penyebab kecelakaan tersebut. Karena itu, ia menganggap alasan belum selesainya penyidikan sulit diterima.
Mori juga menyebut lambatnya penyampaian hasil investigasi berpotensi menimbulkan ketidakjelasan di tengah masyarakat, terutama terkait evaluasi sistem keselamatan transportasi nasional. Ia meminta pemerintah lebih terbuka dalam menyampaikan perkembangan penyelidikan.
Selain kecelakaan kereta di Bekasi, Mori turut menyoroti sejumlah insiden transportasi lain yang terjadi dalam waktu berdekatan, termasuk kecelakaan bus ALS yang menewaskan 16 orang. Ia menilai rentetan kejadian tersebut menjadi alarm serius bagi sektor transportasi nasional.
Ia pun mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, agar memperkuat pengawasan dan evaluasi keselamatan transportasi.
Menurutnya, investigasi setiap kecelakaan harus dilakukan secara transparan dan cepat agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. (A18)
Sumber: Parlementaria










Jadilah yang pertama berkomentar di sini