Pematangsiantar, Sinata.id – Kesibukan sebagai Kapolres Pematangsiantar tetap berjalan seperti biasa bagi AKBP Sah Udur Togi Marito Sitinjak.
Namun, di balik seragam yang dikenakannya, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, keluarga, dan mimpi yang tak pernah padam sebuah cerita yang terasa relevan di momen Hari Kartini.
Lahir di Pematangsiantar pada 16 Oktober 1984, Sah Udur merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ia tumbuh dalam kesederhanaan sebagai putri dari seorang guru honorer. Masa kecilnya diwarnai nilai-nilai kerja keras dan ketulusan yang ditanamkan keluarga, yang kemudian membentuk karakter kuat dalam dirinya.
Perjalanan pendidikannya ditempuh dengan tekun, mulai dari SD Erka Budi Mulya 3, SMP Negeri 1 Siantar, hingga SMA Negeri 2 Matauli Sibolga. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Dharma Agung, Fakultas Hukum, dan berhasil meraih gelar sarjana (S1) dan magister (S2) sebagai bekal menapaki masa depan.
Karier di dunia kepolisian dimulai pada 2003 dan resmi lulus pada 2006. Sejak saat itu, ia mengabdikan diri di institusi Polri. Jalan yang ditempuh tidaklah mudah, terlebih sebagai perempuan di lingkungan kerja yang penuh tantangan. Namun, Sah Udur menjalaninya dengan keteguhan dan komitmen tinggi.
Di balik perannya sebagai Kapolres, ia juga seorang ibu dari tiga anak. Di tengah padatnya tugas, ia tetap berupaya hadir bagi keluarga. Baginya, keluarga adalah sumber kekuatan utama.
Pada peringatan Hari Kartini, ia menyampaikan pesan yang sarat makna.
“Saya percaya, setiap perempuan memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Kartini mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada keadaan, tetapi terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita,” ujarnya.
Ia juga membagikan harapan sederhana kepada para perempuan.
“Jangan takut bermimpi. Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Saya juga berasal dari keluarga sederhana, namun dari situlah saya belajar arti kerja keras dan keikhlasan,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026).
Bagi Sah Udur, menjadi perempuan bukanlah batasan, melainkan kekuatan. Ia membuktikan bahwa kelembutan dapat berjalan beriringan dengan ketegasan, serta empati dapat hadir dalam kepemimpinan.
Di momen Hari Kartini ini, kisahnya bukan sekadar tentang jabatan, melainkan perjalanan seorang anak dari keluarga sederhana yang tumbuh dengan mimpi, menghadapi berbagai tantangan, dan akhirnya menjadi inspirasi bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk bersinar dengan caranya masing-masing. (SN10)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini