Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Jutaan Anak Indonesia Masih Belum Minum Susu

jutaan anak indonesia masih belum minum susu
Putra Nababan

Cikarang, Sinata.id – Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya konsumsi susu di kalangan anak-anak Indonesia. Ia menilai, hingga kini masih ada puluhan juta anak yang belum rutin minum susu, padahal pemerintah terus mendorong perbaikan gizi sejak usia dini.

Hal itu disampaikan Putra saat kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke PT Frisian Flag Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026). Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan kerugian besar bagi masa depan generasi bangsa.

Advertisement

“Setiap hari itu ada kehilangan. Anak-anak kita ini, siapa pun orang tuanya, adalah anak bangsa yang tidak mendapatkan asupan susu,” ujar Putra.

Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan juga dunia usaha. Karena itu, keterlibatan sektor swasta dinilai sangat penting agar akses terhadap susu bisa menjangkau lebih banyak masyarakat.

Baca Juga  Prabowo Pulang Bawa Hasil, Diplomasi Global Berbuah Nyata

“Negara tentu bertanggung jawab, tetapi swasta juga harus ambil bagian. Faktanya, ada lebih dari 30 juta anak kita yang tidak minum susu,” katanya.

Putra juga menyoroti pendekatan berbasis angka yang dianggap menyesatkan. Ia menilai kebijakan yang hanya mendorong konsumsi susu satu hingga dua kali dalam sepekan tidak mencerminkan realitas di lapangan.

“Presiden meminta anak-anak minum susu, tapi lalu dibenarkan hanya seminggu dua kali demi statistik terlihat baik. Itu statistik yang menipu. Faktanya, mereka tetap tidak minum susu,” tegasnya.

Ia mendorong Kementerian Perindustrian agar menetapkan target yang jelas untuk meningkatkan konsumsi susu nasional serta mengoordinasikan peran swasta agar lebih aktif menjangkau anak-anak yang belum terpenuhi gizinya.

Baca Juga  Infrastruktur Rusak, UMKM Terpukul, DPR RI Desak Percepatan Pemulihan Pascabencana

“Apa peran perindustrian di sini? Kuncinya ada pada koordinasi dengan swasta. Di tengah kecanggihan industri susu, masih ada jutaan anak yang tidak bisa menikmatinya. Ini harus dilihat dengan hati, bukan sekadar logika,” ungkap Putra.

Menurutnya, peningkatan konsumsi susu harus menjadi bagian dari pembangunan industri pangan berbasis gizi yang berkelanjutan dan berdaya saing, sekaligus menjawab persoalan mendasar pemenuhan gizi anak bangsa.

“Di tengah pabrik yang begitu maju, masih ada jutaan anak yang tidak bisa minum susu. Ini seharusnya menggugah kita semua,” pungkasnya. (A18)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini