Menurut Ikeda, proses adaptasi menjadi prioritas utama sebelum Jennifer dan Hayato dapat menjalani tahapan pengembangbiakan lebih lanjut.
Acara perkenalan pasangan orangutan tersebut turut dihadiri pejabat pemerintah Jepang, perwakilan KBRI Tokyo, serta pendiri Taman Safari Indonesia, Jansen Manansang. Kegiatan itu juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya Indonesia.
Puncak acara ditandai dengan prosesi first bite, yaitu momen ketika Jennifer dan Hayato menikmati “kue” khusus yang terbuat dari buah-buahan serta sayuran favorit mereka. Meski masih ditempatkan di kandang terpisah, keduanya sudah dapat saling melihat sebagai bagian dari proses adaptasi awal.
KBRI Tokyo menyebut keberhasilan pemindahan Jennifer ke Jepang merupakan hasil kolaborasi panjang antara berbagai lembaga di Indonesia dan Jepang, mulai dari proses perizinan, pemeriksaan kesehatan, hingga pengaturan transportasi yang mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa.
Program ini menjadi bagian dari upaya konservasi ex-situ, yakni pelestarian satwa di luar habitat alaminya, yang melengkapi langkah konservasi in-situ atau perlindungan habitat asli orangutan di Indonesia.
Sebagai informasi, orangutan Kalimantan atau Orangutan Kalimantan saat ini berstatus Critically Endangered (kritis) berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature. Status tersebut menunjukkan bahwa spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar akibat perburuan dan kerusakan habitat. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini