Teheran, Sinata.id — Ketegangan perang antara Iran dan Israel kini memasuki fase yang semakin panas. Dalam pernyataan yang sangat keras, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan terus memburu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bahkan mengancam akan membunuhnya jika masih hidup.
Pernyataan itu disampaikan IRGC melalui situs resmi mereka di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Dalam pesan yang dipublikasikan, militer elite Iran menyebut Netanyahu sebagai target utama dalam perang yang sedang berlangsung.
“Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh,” demikian pernyataan yang dikutip dari media Iran, dikutip Minggu (15/3/2026).
Ancaman tersebut menjadi salah satu retorika paling tajam yang pernah dilontarkan Teheran terhadap pemimpin Israel sejak konflik terbaru meletus.
Ancaman itu juga muncul di tengah spekulasi mengenai keberadaan Netanyahu. Dalam beberapa hari sebelumnya, media sosial ramai mempertanyakan kondisi sang perdana menteri setelah beredar video yang dianggap janggal oleh sejumlah pengguna internet.
Video yang beredar menunjukkan Netanyahu memberikan pernyataan melalui sambungan video. Namun sebagian pengguna internet menyoroti detail yang dianggap aneh pada rekaman tersebut, bahkan memunculkan dugaan bahwa video itu telah dimodifikasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Meski begitu, tidak ada bukti resmi yang menguatkan spekulasi tersebut, dan Netanyahu kemudian kembali muncul di hadapan publik.
Konflik yang memicu ancaman keras dari Iran ini bermula setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis di negara itu.
Dalam eskalasi tersebut, Iran mengklaim pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan udara. Peristiwa itu langsung memicu gelombang balasan dari Teheran.
Iran kemudian melancarkan serangan ke berbagai target, termasuk wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan Teluk.
Di tengah intensitas serangan balasan Iran, Netanyahu sempat tidak muncul di ruang publik selama beberapa waktu. Ketidakhadiran tersebut sempat memicu spekulasi luas mengenai kondisi sang pemimpin Israel.
Namun pada pertengahan Maret, Netanyahu kembali muncul dalam sebuah pernyataan video dengan latar dua bendera Israel. Dalam kesempatan itu ia menegaskan bahwa Iran telah mengalami kerusakan besar akibat serangan militer yang dilancarkan Israel.
Ia juga menegaskan bahwa operasi militer Israel akan terus berlanjut, termasuk terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang dianggap sekutu utama Iran. [A18]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini