Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Hutan Sumatera Menyusut Drastis, 1,4 Juta Hektare Hilang dalam Delapan Tahun

kerusakan hutan sumatera kian mengkhawatirkan. data walhi mencatat 1,4 juta hektare hutan di aceh, sumut, dan sumbar hilang sejak 2016–2024, memicu banjir bandang dan longsor.
Kerusakan hutan di Sumatera kian mengkhawatirkan. Data WALHI mencatat 1,4 juta hektare hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar hilang sejak 2016–2024, memicu banjir bandang dan longsor. (Ilustrasi)

Sinata.id – Sorotan terhadap banjir bandang dan tanah longsor yang berulang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini bergeser ke sumber persoalan di hulu, yakni kondisi hutan yang terus terkikis.

Arus banjir di sejumlah wilayah Sumatera, khususnya di Tapanuli Selatan, belakangan bahkan membawa kayu gelondongan ke permukiman warga.

Advertisement

Fenomena ini memicu pertanyaan serius tentang kondisi kawasan hutan yang seharusnya menjadi benteng utama ekologi.

Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan.

Dalam kurun waktu 2016 hingga 2024, ketiga provinsi tersebut mengalami deforestasi besar-besaran dengan total luasan mencapai sekitar 1,4 juta hektare.

Baca Juga: Jumlah Korban Jiwa Bencana di Sumatera Terus Bertambah, Angka Kematian Tembus 940 Orang

Angka itu merepresentasikan hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat aktivitas manusia, mulai dari penebangan, pembukaan lahan perkebunan dan pertanian, hingga pembangunan berskala besar.

Baca Juga  Momen Bersejarah! Indonesia Ditunjuk Pimpin Dewan HAM PBB 2026

Manajer Kampanye Hutan dan Kebun WALHI, Uli Arta Siagian, menilai kerusakan tersebut tak bisa dilepaskan dari kebijakan negara.

Ia menyebut kemudahan pemberian izin usaha turut mempercepat laju deforestasi di Sumatera.

“Kehilangan hutan dalam skala masif ini tidak berdiri sendiri. Ada faktor kebijakan dan praktik perizinan yang mempermudah eksploitasi kawasan hutan,” ujar Uli dalam sebuah tayangan diskusi publik, dikutip Minggu (7/12/2025).

WALHI mencatat setidaknya 639 izin usaha tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Perizinan itu mencakup sektor pertambangan, konsesi usaha pertambangan, hingga hak guna usaha perkebunan skala besar, termasuk perkebunan sawit monokultur.

Selain itu, terdapat pula izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang memberi ruang bagi kegiatan penebangan kayu, hutan tanaman industri, serta kebun kayu dengan sistem monokultur.

Baca Juga  DPN PERADI RBA Ajak Anggota Gunakan Hak Suara 25 April 2026

Tak berhenti di situ, sektor energi juga ikut masuk dalam radar WALHI. Berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air, baik berskala besar maupun mini, dinilai turut berkontribusi pada degradasi hutan.

Uli menyoroti adanya ketidaksesuaian antara izin yang tertera di atas kertas dengan kondisi di lapangan.

Beberapa pembangkit listrik tenaga air berskala kecil, kata dia, beroperasi dengan kapasitas jauh melampaui izin awal.

Pilihan Editor: SPBU Shell Mulai Normal Kembali, Pasokan BBM Disuntik 100 Ribu Barel

Dampaknya bukan sekadar pada tutupan hutan, melainkan juga pada fungsi ekologis secara keseluruhan.

Hutan yang rusak kehilangan kemampuannya mengatur tata air.

“Ketika tutupan hutan hilang, air hujan tidak lagi tertahan oleh sistem perakaran. Debit air langsung mengalir ke daerah aliran sungai,” jelas Uli.

Baca Juga  Warga Aceh Tenggara Masih Andalkan Starlink untuk Terhubung ke Keluarga Luar Daerah

WALHI Aceh bahkan menemukan sebagian besar daerah aliran sungai di provinsi tersebut dalam kondisi rusak berat akibat aktivitas pertambangan yang masif, termasuk pertambangan ilegal.

Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera Barat.

“Kombinasinya lengkap, hutan rusak, DAS rusak, lalu datang hujan ekstrem. Pertahanan ekologi jebol, banjir bandang dan longsor pun terjadi, membawa material kayu dari hulu ke hilir,” tegasnya.

Situasi ini menjadi peringatan serius bahwa bencana hidrometeorologi yang terus berulang di Sumatera bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan konsekuensi dari perubahan bentang alam yang dibiarkan berlangsung selama bertahun-tahun. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini