Jakarta, Sinata.id — Media sosial kembali diguncang. Bukan soal gosip selebritas, kali ini publik dibuat geger oleh terbongkarnya praktik jual-beli foto KTP dan selfie KTP di Facebook yang diduga menjadi bahan utama penipuan digital. Fakta ini viral setelah seorang analis data digital mengungkap langsung temuan mengejutkan tersebut ke publik.
Unggahan itu datang dari Didy Yudistira, analis forensik digital, yang membedah secara terbuka bagaimana identitas warga negara diperdagangkan layaknya komoditas, lalu digunakan untuk mengelabui korban penipuan online. Dalam hitungan jam, unggahan tersebut menyebar luas, memicu ketakutan sekaligus kemarahan warganet.
“Korban percaya karena pelaku mengirim foto KTP dan selfie sambil memegang KTP. Dari situ korban merasa aman, padahal itu jebakan,” tulis Didy dalam unggahan yang kini viral, dikutip Kamis (22/1/2026).
Yang membuat publik terhenyak, menurut Didy, banyak data yang diperjualbelikan adalah KTP asli, bukan sekadar hasil editan. Foto-foto tersebut dipajang secara terang-terangan di grup Facebook tertentu, lengkap dengan nama, alamat, hingga wajah pemilik identitas.
“Ini baru satu grup yang saya temukan. Bisa dibayangkan kalau ditelusuri lebih dalam, jumlahnya bisa jauh lebih besar,” ungkap Didy.
Temuan ini memunculkan satu fakta mengerikan: siapa pun bisa menjadi korban, bahkan tanpa sadar pernah ‘menjual’ atau ‘membocorkan’ datanya. Sekali foto KTP tersebar di internet, data itu bisa berpindah tangan berkali-kali dan digunakan untuk berbagai modus kejahatan.
Warganet Panik: ‘Pantesan Banyak yang Ketipu’
Kolom komentar unggahan Didy langsung dipenuhi reaksi panik dan pengakuan mengejutkan. Banyak warganet mengaku baru sadar bagaimana mereka atau orang terdekatnya bisa tertipu.
Salah satu akun menulis, “Sekarang masuk akal kenapa scammer pede banget. Mereka pegang data lengkap kita.”
Warganet lain bahkan mengaku pernah menerima foto KTP saat transaksi online dan mengira itu jaminan keamanan, “Dulu mikir, oh aman nih, ada KTP. Ternyata malah jebakan.”
Tak sedikit pula yang terkejut mengetahui foto KTP ternyata punya ‘nilai jual’ di pasar gelap digital.
Modus Lama, Tapi Dampaknya Makin Berbahaya
Didy menjelaskan, praktik ini membuat penipuan terasa semakin meyakinkan. Pelaku tak lagi sekadar mengirim chat atau nomor rekening, melainkan membangun kepercayaan lewat visual identitas.
“Begitu korban melihat KTP dan selfie, logika langsung turun. Padahal data itu bisa dibeli, bahkan ditukar,” jelasnya.
Modus ini disebut-sebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya korban penipuan online, mulai dari jual-beli fiktif, investasi bodong, hingga pinjaman ilegal.
Kehebohan ini memicu desakan agar platform media sosial dan aparat penegak hukum lebih serius menindak perdagangan data pribadi. Banyak pihak menilai kebocoran data sudah berada di tahap mengkhawatirkan, bahkan mengancam keamanan masyarakat luas.
Didy pun mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menjadikan foto KTP sebagai tolok ukur kepercayaan.
“Kalau ada orang kirim KTP duluan, itu justru patut dicurigai, bukan diyakini,” tegasnya. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini