MENU
Banner SINATA.ID
Harga Obat Terancam Naik, BPOM Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah
WA FB
Nasional

Harga Obat Terancam Naik, BPOM Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah

J Editor : Jansen Siahaan | 14 Jun 2026 | 09:25 WIB
Harga Obat Terancam Naik, BPOM Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, M.Biomed bersama Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dalam sebuah kegiatan resmi. (istimewa)

Jakarta, Sinata.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI terus berupaya menjaga stabilitas harga obat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada industri farmasi nasional, khususnya perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengatakan pihaknya tengah mencari solusi yang mampu menjaga keberlangsungan industri farmasi tanpa mengurangi akses masyarakat terhadap obat-obatan yang terjangkau.

Menurut Taruna, penyesuaian harga obat pada tingkat tertentu kemungkinan sulit dihindari akibat meningkatnya biaya produksi. Namun, kenaikan tersebut harus tetap berada dalam batas yang wajar dan tidak memberatkan masyarakat.

Dalam berbagai pembahasan dengan pelaku industri farmasi, BPOM menilai penyesuaian harga pada kisaran 3 hingga 5 persen lebih realistis dibandingkan kenaikan yang terlalu tinggi dan berpotensi mengganggu akses layanan kesehatan.

“Pendekatan ini dipilih sebagai jalan tengah agar industri farmasi tetap dapat beroperasi secara sehat tanpa membebani masyarakat secara berlebihan,” ujar Taruna kepada Sinata.id, Sabtu (13/6/2026).

Ia menegaskan, BPOM tidak menginginkan industri farmasi mengalami tekanan berat hingga mengganggu keberlangsungan usaha. Di sisi lain, negara juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh obat yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Taruna menilai pelemahan rupiah saat ini kembali menunjukkan tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat sektor kesehatan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun dinamika ekonomi global.

“Selama ketergantungan terhadap bahan baku impor masih tinggi, industri kesehatan nasional akan tetap rentan terhadap gejolak kurs dan situasi geopolitik internasional,” katanya.

Karena itu, ia mendorong percepatan pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional.

“Ketahanan kesehatan tidak boleh bergantung pada kurs. Semakin kuat kemandirian farmasi nasional, semakin terlindungi masyarakat dari gejolak ekonomi global,” tegas Taruna.

Menjaga Keseimbangan Industri dan Kepentingan Masyarakat

Taruna menjelaskan, kebijakan relaksasi yang tengah disiapkan BPOM bukan semata-mata untuk meredam dampak pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Langkah tersebut juga bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri farmasi dan perlindungan terhadap hak masyarakat mendapatkan obat yang aman, berkualitas, serta terjangkau.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.