Jakarta, Sinata.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp18.000 dinilai memberikan tekanan serius terhadap industri farmasi nasional, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi ini membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) turun tangan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri farmasi dan keterjangkauan harga obat bagi masyarakat.
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, M.Biomed, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Di satu sisi, industri farmasi membutuhkan ruang untuk bertahan dari kenaikan biaya produksi, namun di sisi lain masyarakat juga harus tetap terlindungi dari lonjakan harga obat.
“Jika industri farmasi terus tertekan tanpa solusi, risiko terganggunya pasokan obat menjadi ancaman nyata. Sebaliknya, jika kenaikan biaya produksi seluruhnya dibebankan kepada konsumen, maka masyarakat akan menghadapi beban kesehatan yang semakin berat,” ujar Taruna kepada Sinata.id, Sabtu (13/6/2026).
BPOM Jadi Penyeimbang
Taruna menjelaskan, persoalan ini tidak hanya menyangkut industri, tetapi juga berkaitan langsung dengan akses kesehatan jutaan masyarakat Indonesia.
Dalam beberapa pekan terakhir, BPOM telah berdialog dengan sejumlah pelaku industri farmasi untuk membahas dampak pelemahan rupiah, termasuk kenaikan harga bahan baku, biaya kemasan, hingga tekanan kurs dolar.
Dari hasil dialog tersebut, BPOM memutuskan mengambil peran sebagai penyeimbang agar kebijakan yang diambil tetap berpihak pada kepentingan masyarakat tanpa mematikan industri.
Relaksasi Bahan Baku Obat Disiapkan
Salah satu langkah yang tengah disiapkan BPOM adalah kebijakan relaksasi perpindahan sumber bahan baku obat.
Selama ini, pergantian pemasok bahan baku dari satu negara ke negara lain harus melalui proses pengujian dan administrasi yang panjang serta mahal. Kebijakan baru ini diharapkan dapat mempercepat adaptasi industri terhadap kondisi ekonomi global.
“Relaksasi ini diharapkan dapat membantu industri menekan biaya produksi tanpa mengorbankan mutu, keamanan, dan khasiat obat,” jelasnya.
Biaya Produksi Berpotensi Naik
Sebelumnya, pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS telah menyebabkan lonjakan biaya produksi di sektor farmasi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.