Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Fenomena El Nino 2026 Berpotensi Picu Kemarau Ekstrem

fenomena el nino 2026 berpotensi picu kemarau ekstrem
Ilustrasi

Jakarta, Sinata.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi terjadinya fenomena El Nino berkekuatan tinggi pada 2026 yang dapat memicu musim kemarau lebih panjang dan kering di Indonesia.

Fenomena yang oleh peneliti dikategorikan ekstrem ini berisiko mengganggu pola cuaca global serta menimbulkan dampak signifikan di berbagai wilayah Tanah Air.

Advertisement

El Nino merupakan anomali iklim berupa peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Kondisi tersebut menyebabkan pergeseran pembentukan awan hujan menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan berpotensi menurun, terutama saat intensitas fenomena menguat.

BRIN memproyeksikan penguatan El Nino pada 2026 berpotensi terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yakni kondisi ketika suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa mendingin.

Baca Juga  Konten Absurd Mudah Viral: Mengapa "Brainrot" Begitu Digemari di Media Sosial?

Kombinasi kedua fenomena ini dinilai dapat memperparah penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil pemodelan iklim global, fenomena tersebut diperkirakan mulai berkembang pada April 2026 dan berlangsung hingga Oktober, bertepatan dengan periode musim kemarau.

Rentang waktu ini dinilai krusial karena berpotensi memperbesar dampak kekeringan dibandingkan periode lainnya.

Meski demikian, BRIN menilai dampak El Nino tidak akan merata. Wilayah selatan Indonesia, seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, diperkirakan lebih rentan mengalami kondisi kering lebih awal.

Sebaliknya, sejumlah wilayah di Indonesia timur, termasuk Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, masih berpotensi menerima curah hujan relatif tinggi.

Perbedaan karakter dampak tersebut memunculkan risiko bencana yang beragam. Di wilayah barat dan selatan, kekeringan berpotensi mengancam sentra produksi pangan, khususnya di kawasan Pantai Utara Jawa.

Baca Juga  12 Daerah di Sumsel Masuk Zona Rawan Karhutla, BNPB Langsung Bergerak

Selain itu, peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan terjadi, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Sementara itu, wilayah timur Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan banjir dan longsor akibat curah hujan yang tetap tinggi selama periode yang sama.

Peneliti Pusat Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi berbagai potensi dampak tersebut.

Ia mengingatkan bahwa ancaman kekeringan dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah lumbung padi.

Selain itu, pemerintah juga diminta menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi di wilayah yang diperkirakan tetap basah, seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera.

BRIN menilai strategi mitigasi perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Daerah rawan kekeringan membutuhkan penguatan pengelolaan sumber daya air dan produksi pangan, sementara wilayah dengan risiko curah hujan tinggi memerlukan upaya pengendalian banjir dan mitigasi longsor.

Baca Juga  Fenomena Viral “Uang Rp10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat” Picu Perdebatan

Dengan perencanaan sejak dini, dampak fenomena El Nino ekstrem pada 2026 diharapkan dapat diminimalkan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan kondisi kemarau, seperti untuk optimalisasi produksi garam nasional. (A58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini