Jakarta, Sinata.id — Kisah yang sempat disebut sebagai dongeng kerajaan lintas negara kini kembali mencuat sebagai cerita luka lama yang belum benar-benar sembuh. Nama kembali ramai diperbincangkan setelah ia membuka kembali kisah pernikahannya dengan Pangeran Kelantan, , yang selama bertahun-tahun nyaris tenggelam oleh waktu.
Unggahan Manohara di media sosial memantik gelombang reaksi publik. Bukan sekadar nostalgia, melainkan pengakuan emosional tentang pernikahan yang disebutnya terjadi saat ia masih sangat muda dan belum sepenuhnya memahami apa yang sedang dijalaninya.
“Saya masih anak-anak. Tidak ada proses, tidak ada pilihan, dan tidak ada persetujuan,” tulis Manohara dalam unggahan yang langsung menyebar luas dan memicu perdebatan tajam, dikutip Rabu (21/1/2026).
Pernyataan itu seketika menghidupkan kembali ingatan publik pada drama pernikahan paling kontroversial di Asia Tenggara pada akhir 2000-an.
Pada 2008, publik dikejutkan oleh kabar pernikahan Manohara — saat itu masih remaja dan dikenal sebagai model — dengan seorang pangeran dari Kesultanan Kelantan. Namun cerita yang awalnya tampak megah itu berubah drastis hanya dalam hitungan bulan.
Nama Manohara mendadak menjadi headline internasional ketika ia melarikan diri dari Malaysia ke Singapura. Dalam berbagai wawancara kala itu, ia mengisahkan kehidupan yang disebutnya penuh tekanan, pengawasan ketat, dan rasa terisolasi.
Cerita tersebut menjelma menjadi drama lintas negara: melibatkan keluarga kerajaan, aparat hukum, hingga perhatian media global. Publik Indonesia menyaksikan kisah itu bukan sebagai gosip selebritas, melainkan potret rapuhnya seorang remaja di balik simbol kekuasaan.
Meski pernikahan itu resmi berakhir pada 2009, kisahnya tak pernah sepenuhnya tertutup. Nama Tengku Fakhry kerap muncul dalam berbagai kontroversi setelahnya, mulai dari konflik internal keluarga kerajaan hingga persoalan hukum yang menyedot perhatian media Malaysia.
Namun waktu berjalan. Sorotan mereda. Hingga akhirnya, pada awal 2024, publik kembali dikejutkan ketika Tengku Fakhry diangkat sebagai Putera Mahkota Kelantan. Sebuah posisi prestisius yang menandai kebangkitan politik dan simbolik dalam struktur kerajaan.
Di titik inilah, pengakuan terbaru Manohara terasa seperti ledakan waktu.
Unggahan Manohara tidak hanya dibaca sebagai curahan hati pribadi, tetapi juga sebagai pemicu diskusi publik tentang pernikahan usia dini, relasi kuasa, dan trauma yang tertinggal lama setelah sorotan media padam.
Netizen ramai-ramai membandingkan dua nasib yang kini berseberangan. Satu sosok perempuan yang bertahun-tahun membawa luka personal, dan satu sosok bangsawan yang kembali berada di puncak kekuasaan. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini