Ia menjelaskan, beberapa pesantren yang menghubunginya memiliki jumlah santri yang cukup besar, bahkan mencapai 4.000 hingga 5.000 orang, sehingga dinilai layak menjadi lokasi pelaksanaan program MBG.
Dudung mengaku hanya membantu mempertemukan pengurus pesantren dengan Kepala BGN agar proses administrasi dan verifikasi dapat berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Saya sampaikan kepada Pak Dadan bahwa ada pesantren yang sudah siap secara administrasi. Setelah itu saya minta mereka berhubungan langsung dengan staf saya dan pihak BGN. Saya sudah tidak ikut mengurus lebih lanjut,” ujarnya.
Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu mengatakan hingga kini pembangunan dapur MBG yang diusulkan pesantren tersebut juga belum terealisasi.
“Nah waktu Pak Dadan datang ke sini beberapa minggu lalu, saya tanya bagaimana perkembangannya. Rupanya sampai sekarang prosesnya belum selesai dan dapurnya belum terbangun,” ungkap Dudung.
Ia menilai munculnya anggapan bahwa dirinya memiliki dapur MBG hanya karena pernah membantu memperkenalkan pihak pesantren kepada Kepala BGN.
“Karena saya yang memperkenalkan ke Pak Dadan, akhirnya muncul seolah-olah Pak Dudung punya dapur MBG. Padahal tidak seperti itu,” tegasnya.
Untuk membuktikan bahwa dirinya tidak memiliki dapur MBG, Dudung bahkan menantang siapa saja yang dapat menunjukkan bukti bahwa dirinya mempunyai SPPG atau dapur MBG.
“Kalau Pak Dudung punya dapur, silakan cek. Saya kasih hadiah nanti,” ucapnya. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini