Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Dewas BPJS Ditekan Punya Target Nyata, Arzeti: Harus Bisa Diukur!

dewas bpjs ditekan punya target nyata, arzeti: harus bisa diukur!
Arzeti Bilbina Setyawan

Jakarta, Sinata.id – Komisi IX DPR RI menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap para calon anggota Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Kesehatan di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (3/2/2026).

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam menyeleksi figur yang dinilai mampu memperkuat sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pengawasan yang efektif dan berintegritas.

Advertisement

Dalam forum tersebut, anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina Setyawan, menyoroti pentingnya sinkronisasi antara kebijakan BPJS Kesehatan dan kondisi riil masyarakat.

Ia mengapresiasi paparan para calon, termasuk Hermawan Saputra dari unsur tokoh masyarakat, yang mengangkat peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan JKN.

Menurut Arzeti, keberhasilan JKN sangat bergantung pada kemampuan BPJS Kesehatan membaca realitas sosial dan budaya di daerah. “Kuncinya adalah harmonisasi, agar kebijakan yang dibuat tetap sejalan dengan daya hidup masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga  Prabowo Kumpulkan Menteri di Hambalang usai Lawatan dari Luar Negeri

Ia menegaskan, posisi Dewan Pengawas sangat strategis karena berfungsi memastikan kebijakan berjalan adil, seimbang, dan berpihak pada peserta. Karena itu, Dewas harus memiliki indikator kinerja yang jelas dan terukur.

“Kami ingin tahu bagaimana kesuksesan itu didefinisikan. Apa tolok ukur yang nantinya bisa dipertanggungjawabkan selama masa jabatan sebagai Dewas,” kata Arzeti menekankan.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tantangan BPJS Kesehatan ke depan akan semakin rumit, mulai dari tekanan pembiayaan, kualitas layanan, hingga koordinasi kebijakan pusat dan daerah. Dalam situasi itu, Dewas dituntut tidak hanya mengawasi, tetapi juga memberi arah strategis bagi keberlanjutan JKN.

“Peran Dewas sangat menentukan masa depan BPJS Kesehatan. Dari sinilah kekuatan sistem itu dijaga,” pungkasnya. (A18)

Baca Juga  IKN Didorong Jadi Pusat Ekonomi Kreatif Masa Depan

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini