Jakarta, Sinata.id – Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, mengingatkan potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Peringatan itu disampaikan menyusul memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurut JK, eskalasi militer di kawasan Timur Tengah berisiko mengguncang stabilitas pasokan energi dunia. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dinilai akan terdampak langsung jika jalur distribusi terganggu.
Ia menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dapat memicu lonjakan harga minyak global. Jalur impor dari kawasan tersebut terancam tersendat, sehingga berdampak pada ketersediaan BBM di dalam negeri.
Ketegangan meningkat setelah serangan roket mengguncang Teheran. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah target di kawasan. Situasi ini memperlihatkan konflik telah memasuki fase yang kian serius.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong dialog damai. Langkah diplomasi dinilai penting guna meredam dampak yang lebih luas.
JK memperkirakan harga minyak dunia akan melonjak tajam apabila serangan terus berlanjut. Gangguan akses impor, terutama yang melintasi wilayah Iran, menjadi faktor utama pemicu krisis.
Indonesia selama ini bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Jika suplai terhenti, tekanan terhadap ekonomi nasional disebut tak terhindarkan.
Ia juga memprediksi Iran berpotensi menyerang negara-negara tetangga seperti Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Targetnya adalah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut, yang bisa memicu efek domino dalam waktu singkat.
Meski dampaknya tidak langsung terasa dalam hitungan hari, JK memperkirakan dalam sepekan krisis pasokan mulai terlihat. Pemerintah diminta segera menyiapkan langkah antisipatif.
Selain faktor eksternal, JK menyoroti terbatasnya cadangan BBM nasional. Rata-rata stok dalam negeri disebut hanya mampu bertahan sekitar tiga pekan.
Jika konflik berkepanjangan lebih dari satu bulan, risiko kelangkaan dinilai semakin besar. Pasokan dari Arab Saudi, Iran, dan Kuwait diperkirakan ikut terdampak akibat eskalasi.
Alternatif pasokan dari Singapura memang masih terbuka. Namun, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk menjamin stabilitas distribusi.
Ketegangan dipicu serangan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, soal operasi tempur besar-besaran semakin memperuncing situasi.
Serangan roket yang menghantam Teheran, termasuk di sekitar kediaman Ali Khamenei, memperlihatkan intensitas konflik yang meningkat.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel serta sejumlah titik di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Kabar wafatnya Ali Khamenei pada 1 Maret 2026 memperdalam krisis.
Iran menetapkan masa berkabung nasional, sementara ketegangan kawasan kian sulit diprediksi arahnya. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini