Sukabumi, Sinata.id – Seorang bocah 12 tahun pulang ke rumah dalam keadaan tak lagi bernyawa. Tubuhnya melepuh, mimpinya yang bercita-cita menjadi kiai terkubur.
NS, pelajar SMP asal Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, baru saja kembali dari pondok pesantren untuk menjalani puasa Ramadan bersama keluarga. Ia dikenal sebagai santri rajin, pendiam, dan tekun mengaji. Di pesantren, ia sering bercerita ingin menjadi ulama, berdakwah, dan membanggakan orang tuanya.
Namun rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, berubah menjadi lokasi tragedi.
Ayah kandungnya, Anwar Satibi (38), tak kuasa menahan tangis di RS Bhayangkara Setukpa Polri, Jumat (20/2/2026). Di ruang duka itu, ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan sang putra.
“Anak saya cita-citanya ingin jadi kiai, itu yang membuat saya sangat sakit. Sampai kemarin saat saya pulang dari Sukabumi, saya kasih uang 50 ribu untuk bekal di pesantren, dia sangat senang,” ucap Anwar, dikutip Sabtu (21/2/2026).
Uang lima puluh ribu itu kini terasa seperti simbol harapan yang tak sempat tumbuh.
Baca Juga: Ogah Dijodohkan, Reena Menyamar Jadi Ular dan Tipu Warga Sekampung
Pengakuan di Ujung Napas
NS sempat dilarikan ke RSUD Jampang Kulon dalam kondisi kritis. Hampir seluruh tubuhnya—dari dada hingga kaki—dipenuhi luka bakar dan lepuhan. Dalam kondisi lemah di instalasi gawat darurat, bocah itu masih sanggup berbicara.
Ia menunjuk satu nama: ibu tirinya.
Menurut keterangan keluarga, sebelum mengembuskan napas terakhir, NS mengaku dipaksa meminum air panas. Pengakuan itu juga disampaikan kepada kakek angkatnya, Haji Isep.
“Dia bilang itu sama mama (ibu tiri). Ada bukti videonya, itu ucapan almarhum sendiri,” ujar Isep, menahan emosi.
Pengakuan di ujung napas itu kini menjadi kunci penyelidikan.
Hasil Autopsi
Kepala RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri, Kombes Pol dr. Carles Siagian, menjelaskan hasil pemeriksaan forensik terhadap jasad korban. Tim menemukan sejumlah luka bakar serius di bagian lengan, kaki, dan punggung.
“Ditemukan luka bakar di lengan, kaki, dan punggung. Selain itu, ada luka bakar di area bibir dan hidung. Paru-parunya ditemukan sedikit membengkak, dan kami telah mengirim sampel organ ke Jakarta untuk memastikan apakah ada zat berbahaya di dalam tubuh korban,” terang dr. Carles.
Temuan luka di sekitar bibir dan hidung memperkuat dugaan adanya paksaan saat cairan panas masuk ke tubuh korban. Pembengkakan paru menjadi indikator penting dalam mengurai kemungkinan kekerasan yang lebih kompleks.
Secara medis, luka-luka itu tidak muncul begitu saja. Ia adalah jejak panas yang meninggalkan cerita pahit tentang kekerasan dalam rumah tangga.
Kasus ini mengguncang warga Surade. Di kampung yang biasanya hening selepas magrib, kabar kematian NS menyebar cepat. Warga mengenalnya sebagai anak yang santun, rajin mengaji, dan jarang membuat masalah.
Ironisnya, bocah yang menimba ilmu agama untuk menjadi pembimbing umat justru diduga menjadi korban kekerasan di lingkungan terdekatnya sendiri.
Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan berubah menjadi masa berkabung bagi keluarga. Cita-cita menjadi kiai—yang diucapkan polos oleh seorang anak 12 tahun—kini hanya tinggal kenangan.
Di tengah modernisasi dan gempuran berbagai isu nasional, tragedi seperti ini seakan menjadi tamparan keras: kekerasan terhadap anak masih terjadi, bahkan di ruang domestik yang mestinya menjadi benteng perlindungan pertama.
Hingga kini, proses penyelidikan terus berjalan untuk memastikan kronologi dan tanggung jawab hukum dalam kasus ini. Bukti forensik dan rekaman pengakuan korban menjadi bagian penting dalam pengungkapan perkara. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini