Pematangsiantar, Sinata.id – Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern dan masuknya berbagai makanan internasional, bubur sumsum tetap menjadi salah satu makanan tradisional yang digemari masyarakat Indonesia.
Hidangan berbahan dasar tepung beras yang disajikan dengan kuah gula merah ini dikenal memiliki tekstur lembut serta cita rasa manis gurih yang khas. Selain lezat, bubur sumsum juga menyimpan nilai budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat sejak lama.
Bubur sumsum dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dengan variasi penyajian yang beragam. Meski demikian, ciri khas utamanya tetap sama, yakni bubur berwarna putih dengan tekstur halus yang dipadukan dengan siraman gula merah cair.
Tetap Menjadi Menu Favorit
Permintaan bubur sumsum masih tergolong tinggi, terutama pada pagi hari dan selama bulan Ramadan. Banyak masyarakat menjadikannya sebagai menu sarapan karena mudah dicerna dan cukup mengenyangkan.
“Setiap pagi saya bisa menjual puluhan porsi bubur sumsum. Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua,” ujar Siti Aminah, pedagang bubur tradisional yang telah berjualan lebih dari 15 tahun.
Menurutnya, salah satu keunggulan bubur sumsum adalah penggunaan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan, seperti tepung beras, santan, daun pandan, gula merah, dan sedikit garam. Dengan bahan tersebut, masyarakat dapat membuat hidangan yang lezat dan bernilai gizi.
Simbol Kekayaan Kuliner Nusantara
Pengamat kuliner tradisional, Rahmat Hidayat, menilai bubur sumsum merupakan salah satu contoh kekayaan pangan lokal yang berhasil bertahan di tengah perubahan zaman.
“Bubur sumsum memiliki nilai rasa, sejarah, dan sosial yang kuat. Hidangan ini sering hadir dalam berbagai acara keluarga maupun kegiatan adat di sejumlah daerah,” katanya.
Di beberapa wilayah Indonesia, bubur sumsum tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Hidangan ini kerap disajikan dalam acara syukuran, kegiatan keagamaan, hingga peringatan tertentu sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Inovasi tanpa Menghilangkan Keaslian
Seiring perkembangan industri kuliner, sejumlah pelaku usaha mulai menghadirkan inovasi bubur sumsum dengan tambahan topping seperti buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, hingga saus modern.
Meski demikian, banyak konsumen tetap memilih versi tradisional karena dianggap memiliki cita rasa autentik yang sulit tergantikan.
“Menurut saya, bubur sumsum tradisional tetap yang paling nikmat. Rasanya sederhana, tetapi menghadirkan kenangan masa kecil dan suasana kampung halaman,” ujar Rina, salah seorang pelanggan.
Dinilai Lebih Ringan dan Mengenyangkan
Tren gaya hidup sehat turut memberikan dampak positif terhadap popularitas bubur sumsum. Dibandingkan sejumlah makanan cepat saji, bubur sumsum dianggap sebagai pilihan yang lebih ringan dan mudah dicerna.
Kandungan tepung beras sebagai sumber karbohidrat serta santan sebagai sumber energi membuat makanan ini cukup mengenyangkan. Namun, ahli gizi mengingatkan agar konsumsi bubur sumsum tetap dilakukan secara seimbang karena kuah gula merah mengandung kadar gula yang cukup tinggi.
“Bubur sumsum dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dipadukan dengan menu bergizi lainnya,” ujar seorang ahli gizi.
Upaya Pelestarian Kuliner Tradisional
Pemerintah dan berbagai komunitas kuliner terus mendorong pelestarian makanan tradisional, termasuk bubur sumsum. Berbagai festival kuliner daerah kerap menampilkan hidangan ini sebagai salah satu ikon kuliner khas Indonesia.
Selain itu, media sosial turut berperan dalam memperkenalkan bubur sumsum kepada generasi muda. Banyak kreator konten membagikan resep, sejarah, hingga ulasan mengenai makanan tradisional tersebut sehingga semakin dikenal luas.
Dengan cita rasa khas, harga yang terjangkau, serta nilai budaya yang kuat, bubur sumsum diyakini akan terus bertahan di tengah persaingan industri kuliner modern.
Lebih dari sekadar menu sarapan atau makanan penutup, bubur sumsum merupakan warisan kuliner Nusantara yang menghubungkan generasi masa lalu dengan masa kini. Keberadaannya menjadi bukti bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini