Paris, Sinata.id – Penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko diabetes tipe 2 tidak hanya dipengaruhi oleh gaya hidup, tetapi juga berkaitan erat dengan golongan darah seseorang. Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Gustave Roussy Institute, Prancis, mengungkapkan bahwa pemilik golongan darah B memiliki tingkat risiko paling signifikan dibandingkan golongan darah lainnya.
Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia ini mematahkan anggapan bahwa faktor metabolik hanya dipicu oleh pola makan dan aktivitas fisik. Peneliti menemukan adanya kecenderungan biologis tertentu yang membuat pemilik golongan darah non-O lebih rentan terhadap lonjakan kadar gula darah kronis.
Penelitian yang dipimpin oleh Guy Fagherazzi ini melibatkan analisis data terhadap 82.000 wanita dalam kurun waktu 18 tahun (1990–2008). Dari total responden tersebut, sebanyak 3.553 partisipan terdiagnosis diabetes tipe 2.
Berdasarkan perbandingan dengan golongan darah O sebagai kelompok risiko terendah, berikut adalah persentase peningkatan risiko pada golongan darah lain:
-Golongan Darah B: Berisiko 21 persen lebih tinggi.
-Golongan Darah AB: Berisiko 17 persen lebih tinggi.
-Golongan Darah A: Berisiko 10 persen lebih tinggi.
Tim peneliti juga mengombinasikan tipe darah dengan faktor Rhesus (Rh) untuk mendapatkan data yang lebih spesifik. Meski faktor Rhesus secara mandiri tidak menunjukkan perbedaan signifikan, kombinasi keduanya menghasilkan angka risiko yang berbeda:
-B Positif (B+): Menempati urutan tertinggi dengan risiko 35 persen lebih besar dibanding O.
-AB Positif (AB+): Memiliki risiko 26 persen lebih tinggi.
-A Negatif (A-): Memiliki risiko 22 persen lebih tinggi.
-A Positif (A+): Memiliki risiko 17 persen lebih tinggi.
“Temuan kami mendukung adanya hubungan yang kuat antara golongan darah dan risiko diabetes. Peserta dengan golongan darah O terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2,” ujar Fagherazzi dalam laporan resminya.
Implikasi Medis
Diabetes tipe 2 merupakan sindrom metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang, jika tidak ditangani, dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke. Para peneliti meyakini bahwa mekanisme biologis yang menghubungkan golongan darah dengan stroke—seperti yang ditemukan pada studi terdahulu—juga berperan dalam perkembangan diabetes.
Meskipun temuan ini memberikan perspektif baru dalam dunia medis, tim peneliti menekankan perlunya studi lanjutan untuk memastikan mekanisme fisiologis di balik hubungan tersebut. Masyarakat tetap diimbau untuk menjaga pola hidup sehat sebagai langkah preventif utama. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini