Pematangsiantar, Sinata.id – Maraknya penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kalangan anak muda mulai menimbulkan kekhawatiran para ahli.
Teknologi yang awalnya dimanfaatkan untuk mencari informasi kini berkembang menjadi tempat curhat, pendamping emosional, bahkan pengganti interaksi sosial bagi sebagian generasi muda.
Peneliti dari University College London menilai tren tersebut berpotensi menghambat kemampuan anak muda dalam membangun hubungan emosional jangka panjang dengan sesama manusia.
Temuan itu disampaikan dalam riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal British Medical Journal.
Para peneliti menyoroti bahwa chatbot menawarkan respons instan, kesabaran tanpa batas, dan hampir tidak pernah memberikan pandangan yang menantang.
Kondisi ini dinilai berbeda jauh dengan interaksi antarmanusia yang sarat dinamika emosional dan timbal balik.
“Kita berisiko menyaksikan generasi yang belajar membangun ikatan emosional dengan entitas yang tampak sadar, tetapi sebenarnya tidak memiliki empati dan kepekaan relasional seperti manusia,” tulis tim peneliti.
Fenomena ini juga dikaitkan dengan meningkatnya penggunaan chatbot sebagai sarana terapi dan pendampingan psikologis. Para ahli menilai kondisi tersebut menjadi sinyal peringatan atas meluasnya rasa kesepian di masyarakat modern.
Dalam kajian tersebut, peneliti melakukan meta-analisis terhadap berbagai studi terkait penggunaan AI dan dampaknya secara psikologis maupun sosial.
Salah satu studi dari OpenAI yang melibatkan 980 pengguna ChatGPT menemukan bahwa individu dengan durasi penggunaan tertinggi dalam satu bulan cenderung mengalami tingkat kesepian yang lebih besar dan berkurang intensitas bersosialisasinya.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa pengguna yang mengaku mempercayai chatbot sebagai tempat bergantung emosional memperlihatkan tanda-tanda keterikatan dan kesepian yang lebih kuat.
Temuan serupa diperkuat riset Common Sense Media yang menyebut satu dari 10 anak muda merasa percakapan dengan AI lebih memuaskan dibandingkan berbicara dengan manusia.
Bahkan, satu dari tiga responden menyatakan lebih memilih pendamping AI untuk percakapan serius.
Para peneliti menekankan pentingnya kajian lanjutan untuk mengidentifikasi pola penggunaan yang bersifat kompulsif.
Indikator yang perlu dicermati antara lain kecenderungan menyebut chatbot sebagai “teman”, membangun keterikatan emosional berlebihan, hingga menyerahkan pengambilan keputusan penting kepada AI.
Tanda peringatan lain muncul ketika seseorang meyakini dirinya memiliki hubungan khusus dengan chatbot, yang berpotensi memperparah isolasi sosial.
Dalam sejumlah kasus ekstrem, ketergantungan terhadap AI bahkan dikaitkan dengan kematian anak muda.
Salah satu kasus yang disorot adalah seorang remaja berusia 14 tahun di Florida, Amerika Serikat, yang meninggal dunia setelah menjalin hubungan intens dengan chatbot berbasis role-playing.
Keluarga korban kemudian mengajukan gugatan hukum terhadap perusahaan pengembang chatbot tersebut, dengan tudingan bahwa teknologi itu mendorong perilaku melukai diri sendiri.
Para ahli menilai, tanpa pengawasan dan pemahaman yang memadai, penggunaan AI sebagai pengganti relasi manusia berisiko menimbulkan dampak serius bagi kesehatan mental generasi muda. (*)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini