Jakarta, Sinata.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (8/6/2026).
Indeks ditutup merosot 4,52 persen atau 252,63 poin ke level 5.342,14 seiring meningkatnya tekanan dari sentimen domestik maupun global.
Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut terpuruk dengan penurunan 5,50 persen atau 30,67 poin ke posisi 527,08.
Data perdagangan menunjukkan IHSG bergerak di rentang 5.317,90 hingga 5.523,94 sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 661 saham ditutup melemah, 78 saham menguat, dan 771 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp21,74 triliun dengan volume perdagangan 32,52 miliar saham yang berpindah tangan melalui 2,21 juta kali transaksi.
Rupiah dan Sentimen Global Tekan Pasar
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih berada dalam tren penurunan yang cukup kuat. Menurutnya, tekanan berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Dari sisi global, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan pasar memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut membebani sentimen investor. Berdasarkan data perdagangan, dolar AS sempat menyentuh kisaran Rp18.170 hingga Rp18.200.
“Pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut hingga mencapai Rp18.200 per dolar AS turut menekan minat investor terhadap aset berisiko di Indonesia,” ujar Herditya.
Senada dengan itu, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut aksi jual masif dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik serta meningkatnya ketidakpastian global.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang kembali memanas mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia lebih dari 4 persen. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global, potensi pelebaran defisit APBN Indonesia, serta kemungkinan kebijakan suku bunga tinggi yang lebih panjang dari bank sentral AS.
“Potensi penurunan IHSG masih terbuka secara teknikal dan berpeluang menguji level 5.100 dalam waktu dekat,” kata Ratna.
Seluruh Sektor Saham Berada di Zona Merah
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh lini sektor saham. Berdasarkan klasifikasi IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami pelemahan.
Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 6,47 persen, diikuti sektor industri sebesar 6,00 persen dan sektor transportasi serta logistik sebesar 5,43 persen.
Selain itu, sektor teknologi turun 4,68 persen, sektor kesehatan melemah 4,44 persen, sektor konsumer nonprimer turun 4,36 persen, dan sektor energi terkoreksi 4,03 persen.
Top Gainers dan Top Losers
Di kelompok saham LQ45, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan, di antaranya:
ADMR naik 3,57 persen
MBMA naik 1,38 persen
UNVR naik 0,32 persen
Sementara saham dengan pelemahan terbesar di indeks LQ45 adalah:
TLKM turun 14,86 persen
HRTA turun 13,62 persen
ISAT turun 8,78 persen
PGAS turun 8,55 persen
JPFA turun 8,01 persen
Secara keseluruhan, saham yang mencatat penguatan tertinggi di pasar reguler adalah GRIA, FORU, ASPR, TPIA, dan PSDN. Sedangkan saham dengan pelemahan terdalam ditempati ENAK, PTSN, GPSO, TNCA, dan ANJT.
BBCA Jadi Saham Teraktif
Berdasarkan nilai transaksi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp3,5 triliun.
Posisi berikutnya ditempati:
BBRI Rp1,7 triliun
BMRI Rp1,5 triliun
TLKM Rp810,1 miliar
ANTM Rp712,7 miliar
Dari sisi frekuensi transaksi, BBCA juga menjadi yang paling aktif dengan 117.342 kali transaksi, disusul BBRI sebanyak 108.280 kali transaksi dan BUMI sebanyak 67.285 kali transaksi.
Pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini juga sejalan dengan koreksi yang terjadi di sejumlah bursa utama Asia. Indeks Nikkei, Shanghai Composite, Hang Seng, dan Straits Times kompak ditutup di zona merah akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini