Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pasar keuangan, Kamis siang. Pelemahan mata uang Garuda tersebut dinilai mulai berdampak serius terhadap stabilitas sektor usaha dan iklim investasi nasional.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.905 per dolar AS pada pukul 11.54 WIB sebelum bergerak menguat tipis ke posisi Rp17.870 per dolar AS sekitar pukul 12.17 WIB. Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada di level Rp17.857 per dolar AS atau melemah sekitar 0,31 persen dibanding posisi sehari sebelumnya di angka Rp17.801 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS. Mata uang nasional juga tercatat melemah terhadap sejumlah mata uang kawasan Asia. Terhadap ringgit Malaysia, rupiah mengalami penurunan lebih dari 9 persen. Sementara terhadap dolar Singapura melemah sekitar 7 persen dan terhadap rial Kamboja turun lebih dari 6 persen.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, menilai pelemahan rupiah saat ini telah memberikan tekanan berat bagi industri nasional.
Menurutnya, dunia usaha kini tidak hanya menghadapi ancaman pengurangan tenaga kerja, tetapi mulai memasuki fase bertahan di tengah tekanan ekonomi yang datang secara bersamaan.
Ia menyebut sejumlah faktor yang memperburuk situasi, antara lain pelemahan kurs rupiah, kenaikan harga energi, tingginya suku bunga, persoalan arus kas perusahaan akibat restitusi yang tertahan, hingga konsolidasi bisnis global yang berpotensi mengurangi aktivitas investasi asing di Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah menilai kondisi fundamental ekonomi domestik masih relatif stabil. Menteri Keuangan, Purbaya, menyatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi nasional.
Pemerintah, kata dia, belum melihat urgensi untuk mengubah asumsi dasar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 meski kurs rupiah menembus level Rp17.800 per dolar AS.
Ia juga menyampaikan bahwa dampak fluktuasi nilai tukar telah diperhitungkan sebelumnya, termasuk ketika harga minyak dunia mengalami lonjakan hingga menyentuh 100 dolar AS per barel. Selain itu, pemerintah mengklaim stabilitas pasar obligasi mulai terjaga setelah dilakukan langkah intervensi terhadap Surat Berharga Negara (SBN).
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta peluang bank sentral AS, The Federal Reserve, mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun menjadi sentimen utama yang menekan pasar keuangan negara berkembang.
Adapun dari dalam negeri, tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor energi, pembayaran dividen perusahaan, dan kewajiban utang jatuh tempo disebut turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Ia juga menilai kekhawatiran investor terhadap tata kelola sejumlah program ekonomi nasional menjadi salah satu faktor yang memicu keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik.
Pelemahan rupiah yang berlangsung berkepanjangan dinilai dapat berdampak pada meningkatnya biaya produksi industri, harga barang impor, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat apabila tidak diantisipasi secara menyeluruh.
Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu fondasi penting perekonomian nasional. Di tengah tekanan global dan tantangan domestik, langkah penguatan kepercayaan pasar serta kebijakan ekonomi yang terukur dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi Indonesia ke depan. (SN9)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini