Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.812 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (27/5/2026) pukul 10.18 WIB.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.795.
Sejumlah mata uang kawasan Asia terpantau bergerak variatif. Yen Jepang, dolar Hong Kong, dolar Singapura, dan dolar Taiwan tercatat menguat tipis. Sementara won Korea, peso Filipina, dan yen Tiongkok juga mengalami penguatan.
Di sisi lain, rupee India melemah, ringgit Malaysia stagnan, dan baht Thailand menguat terbatas.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Laporan menyebut Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di selatan Iran.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menghambat proses negosiasi damai antara kedua negara yang saat ini sedang berlangsung.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi penurunan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi serta meningkatnya biaya produksi perusahaan, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
Situasi ini dinilai berpotensi mendorong efisiensi perusahaan hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Dalam satu bulan terakhir, lonjakan PHK cukup signifikan. Banyak perusahaan mulai melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional,” ujar Ibrahim.
Di pasar non-deliverable forward (NDF), rupiah bahkan sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan Refinitiv, pada Rabu (27/5/2026) pukul 10.16 WIB, rupiah bergerak di rentang Rp17.800–Rp18.000 per dolar AS.
Untuk tenor satu minggu, kurs NDF berada di kisaran Rp17.832–Rp17.840, sementara tenor satu tahun telah menembus Rp18.228–Rp18.245 per dolar AS.
Non-deliverable forward (NDF) merupakan instrumen derivatif valuta asing yang digunakan untuk mengunci nilai tukar di masa depan tanpa penyerahan fisik mata uang.
Selisih keuntungan atau kerugian dihitung dari perbedaan kurs kontrak dengan kurs acuan saat jatuh tempo. Instrumen ini banyak digunakan untuk lindung nilai terhadap risiko fluktuasi nilai tukar.
Pasar NDF yang tidak tersedia di Indonesia umumnya diperdagangkan di pusat keuangan global seperti Singapura, Hong Kong, London, dan New York.
Pergerakan rupiah di pasar NDF sering menjadi indikator ekspektasi pasar terhadap arah nilai tukar ke depan, terutama ketika menunjukkan pelemahan lebih dalam dibandingkan pasar spot. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini