Jakarta, Sinata.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode kuartal II hingga kuartal IV 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,1% secara tahunan (yoy).
Proyeksi tersebut dipengaruhi tekanan eksternal global serta kebijakan suku bunga tinggi.
Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sebelumnya, pasar telah merespons pengetatan moneter melalui kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI.
Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah serta kenaikan instrumen pasar seperti SBN dan SRBI sudah terjadi sejak awal tahun, bahkan sebelum keputusan BI Rate diumumkan.
“Catatan saja, sebelum kenaikan BI Rate ini, suku bunga SBN dan SRBI sudah lebih dulu naik, dan rupiah juga melemah. Kenaikan BI Rate ini lebih sebagai konfirmasi bahwa BI tetap konsisten menjaga stabilitas,” ujar David pada Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik dan persepsi pasar terhadap fiskal nasional.
“Tanpa perubahan signifikan pada kondisi global dan domestik, pertumbuhan ekonomi kuartal II hingga IV 2026 akan berada di kisaran 4,9%–5,1%,” tambahnya.
David menyebut peluang kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin masih dapat terjadi hingga akhir 2026 apabila sejumlah risiko berlanjut.
Beberapa faktor tersebut antara lain ketegangan geopolitik global yang menjaga harga energi tetap tinggi, inflasi eksternal, serta perbedaan imbal hasil global.
Faktor lainnya adalah dampak fenomena El Niño terhadap inflasi pangan, serta depresiasi rupiah yang berdampak pada kenaikan harga barang impor.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, termasuk pemangkasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar Rp67 triliun serta efisiensi belanja kementerian/lembaga, dinilai dapat memperkuat ketahanan fiskal.
“Efisiensi anggaran MBG dan K/L itu positif untuk ketahanan fiskal dan pada akhirnya bisa mendukung stabilitas nilai tukar,” jelas David.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance, Ahmad Tauhid, menilai kenaikan suku bunga lebih bersifat jangka pendek dalam menopang rupiah.
“Dalam jangka pendek rupiah bisa menguat, tetapi kuartal III dan IV belum tentu. Investor tidak hanya melihat suku bunga, tetapi juga faktor struktural,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian global serta keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI, serta kebijakan ekonomi domestik yang dinilai pasar belum sepenuhnya stabil.
Menurutnya, level keseimbangan rupiah kini telah bergeser di atas Rp17.000 per dolar AS.
Tauhid menegaskan kenaikan BI Rate akan langsung berdampak pada suku bunga perbankan, terutama kredit berbunga mengambang (floating rate).
“Bank biasanya cepat menaikkan bunga kredit saat suku bunga naik. Dampaknya bisa langsung terasa ke masyarakat,” katanya.
Sektor yang paling terdampak adalah kredit konsumsi seperti KPR dan kendaraan bermotor, disusul kredit modal kerja.
Ia memperkirakan pertumbuhan kredit dapat melambat dari sekitar 10% menjadi 8%.
“Stabilitas rupiah memang dibayar dengan potensi perlambatan kredit,” ujarnya.
Tauhid juga menilai target pertumbuhan ekonomi 5,4% akan sulit dicapai pada kondisi saat ini.
Menurutnya, momentum pertumbuhan ekonomi biasanya kuat pada kuartal pertama, namun kini mulai melemah akibat tekanan fiskal dan moneter.
Ia menekankan pentingnya menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari PDB, idealnya di kisaran 2,4%–2,5%, untuk menjaga kepercayaan investor. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini