Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 20 Mei 2026 |18:50 WIB |Volume: 0.5K • 2.6K • 0.5K • 0.5K • 0.2K DMI • FOB PALOPO • DMI • DMI • LOCO PARINDU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
- 11010 (MNA) - 15150 WD
Catatan Pasar
  • Tender PTPN didominasi status WD. Tender DMI mencatat CTR di level 15.500 dengan bidder IMT, IBP, dan PAA. Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder. Tender LOCO PARINDU mencatat penawaran MNA di level 11.010 dengan CTR 15.150.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

BI Rate Naik ke 5,25%, Ekonomi 2026 Diproyeksi Melambat di Kisaran 4,9–5,1%

bi rate naik ke 5,25%, ekonomi 2026 diproyeksi melambat di kisaran 4,9–5,1%
Ilustrasi BI Rate. (perbanas)

Jakarta, Sinata.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode kuartal II hingga kuartal IV 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,1% secara tahunan (yoy).

Proyeksi tersebut dipengaruhi tekanan eksternal global serta kebijakan suku bunga tinggi.

Advertisement

Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sebelumnya, pasar telah merespons pengetatan moneter melalui kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI.

Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah serta kenaikan instrumen pasar seperti SBN dan SRBI sudah terjadi sejak awal tahun, bahkan sebelum keputusan BI Rate diumumkan.

“Catatan saja, sebelum kenaikan BI Rate ini, suku bunga SBN dan SRBI sudah lebih dulu naik, dan rupiah juga melemah. Kenaikan BI Rate ini lebih sebagai konfirmasi bahwa BI tetap konsisten menjaga stabilitas,” ujar David  pada Kamis (21/5/2026).

Baca Juga  IHSG Berpotensi Variatif di Tengah Gejolak Global, Ini Analisis dan Proyeksinya

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik dan persepsi pasar terhadap fiskal nasional.

“Tanpa perubahan signifikan pada kondisi global dan domestik, pertumbuhan ekonomi kuartal II hingga IV 2026 akan berada di kisaran 4,9%–5,1%,” tambahnya.

David menyebut peluang kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin masih dapat terjadi hingga akhir 2026 apabila sejumlah risiko berlanjut.

Beberapa faktor tersebut antara lain ketegangan geopolitik global yang menjaga harga energi tetap tinggi, inflasi eksternal, serta perbedaan imbal hasil global.

Faktor lainnya adalah dampak fenomena El Niño terhadap inflasi pangan, serta depresiasi rupiah yang berdampak pada kenaikan harga barang impor.

Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, termasuk pemangkasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar Rp67 triliun serta efisiensi belanja kementerian/lembaga, dinilai dapat memperkuat ketahanan fiskal.

Baca Juga  Shutdown Pemerintah AS Bikin Dolar Ambruk, Rupiah Langsung Rebut Momentum

“Efisiensi anggaran MBG dan K/L itu positif untuk ketahanan fiskal dan pada akhirnya bisa mendukung stabilitas nilai tukar,” jelas David.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance, Ahmad Tauhid, menilai kenaikan suku bunga lebih bersifat jangka pendek dalam menopang rupiah.

“Dalam jangka pendek rupiah bisa menguat, tetapi kuartal III dan IV belum tentu. Investor tidak hanya melihat suku bunga, tetapi juga faktor struktural,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian global serta keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI, serta kebijakan ekonomi domestik yang dinilai pasar belum sepenuhnya stabil.

Menurutnya, level keseimbangan rupiah kini telah bergeser di atas Rp17.000 per dolar AS.

Baca Juga  Purbaya Siapkan Opsi Naikkan Harga BBM Subsidi jika Minyak Dunia Melonjak

Tauhid menegaskan kenaikan BI Rate akan langsung berdampak pada suku bunga perbankan, terutama kredit berbunga mengambang (floating rate).

“Bank biasanya cepat menaikkan bunga kredit saat suku bunga naik. Dampaknya bisa langsung terasa ke masyarakat,” katanya.

Sektor yang paling terdampak adalah kredit konsumsi seperti KPR dan kendaraan bermotor, disusul kredit modal kerja.

Ia memperkirakan pertumbuhan kredit dapat melambat dari sekitar 10% menjadi 8%.

“Stabilitas rupiah memang dibayar dengan potensi perlambatan kredit,” ujarnya.

Tauhid juga menilai target pertumbuhan ekonomi 5,4% akan sulit dicapai pada kondisi saat ini.

Menurutnya, momentum pertumbuhan ekonomi biasanya kuat pada kuartal pertama, namun kini mulai melemah akibat tekanan fiskal dan moneter.

Ia menekankan pentingnya menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari PDB, idealnya di kisaran 2,4%–2,5%, untuk menjaga kepercayaan investor. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini