Pematangsiantar, Sinata.id – Tidak semua orang memilih merayakan ulang tahun dengan pesta mewah, makan malam di restoran mahal, atau hiburan glamor bersama kerabat dan sahabat. Di tengah gaya hidup yang semakin identik dengan kemewahan, Marolop S Manurung justru memilih cara sederhana namun penuh makna untuk mensyukuri pertambahan usianya.
Pada hari ulang tahunnya, Senin (11/05/2026), Marolop mendatangi Yayasan Sinar Harapan Kasih Bapa di Gang Sabar, Simarimbun, Kecamatan Siantar Marimbun, Kota Pematangsiantar. Tempat sederhana itu selama ini menjadi rumah bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terlantar yang hidup jauh dari perhatian masyarakat.
Kedatangannya bukan sekadar kunjungan biasa. Marolop membawa sembako, makanan, dan berbagai kebutuhan sehari-hari untuk dibagikan kepada para penghuni yayasan. Namun lebih dari itu, ia datang membawa perhatian dan kasih yang mungkin sudah lama tidak mereka rasakan.
Suasana haru mulai terasa ketika Marolop menyapa satu per satu penghuni yayasan. Ia menjabat tangan mereka dengan hangat, duduk bersama, hingga mendengarkan cerita-cerita sederhana dengan penuh perhatian.
Tak terlihat rasa canggung ataupun jarak saat ia berinteraksi dengan para penghuni yayasan. Yang terpancar justru perhatian, kehangatan, dan ketulusan dari hati.
Beberapa penghuni tampak tersenyum malu saat diajak berbincang. Ada yang memegang erat tangan Marolop, ada pula yang terlihat bahagia hanya karena merasa diperhatikan dan diajak berbicara layaknya keluarga sendiri.
Yayasan Sinar Harapan Kasih Bapa sendiri selama ini menjadi tempat penampungan bagi ODGJ yang ditemukan hidup terlantar di jalanan. Sebagian dari mereka hidup tanpa keluarga, tanpa rumah, bahkan ditinggalkan karena dianggap menjadi beban kehidupan.
Di tengah keterbatasan fasilitas, para pengurus yayasan tetap setia merawat mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Tempat sederhana itu menjadi rumah bagi orang-orang yang perlahan terlupakan oleh lingkungan sekitar.

Bagi Marolop, ulang tahun bukan hanya tentang bertambahnya usia ataupun menerima ucapan selamat. Ia ingin menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk berbagi kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang selama ini jarang mendapat perhatian.
“Bagi saya, kebahagiaan terbesar bukanlah ketika dirayakan secara mewah, tetapi ketika kita bisa melihat orang lain tersenyum karena kehadiran kita. Saya percaya kasih Tuhan harus dirasakan semua orang, termasuk saudara-saudara kita yang ada di tempat ini,” ujarnya dengan suara bergetar menahan haru.
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Beberapa pengurus yayasan tampak menundukkan kepala, sementara sejumlah penghuni memandang Marolop dengan mata berkaca-kaca.
Salah seorang pengurus yayasan mengaku sangat tersentuh atas kedatangan Marolop. Menurutnya, tidak banyak orang yang bersedia datang langsung dan berinteraksi dekat dengan para ODGJ karena masih kuatnya stigma di tengah masyarakat.
“Jarang sekali orang mengunjungi ODGJ karena banyaknya risiko ketika berkunjung di sini. Banyak yang takut dan memilih menjauh. Namun menurut kami, Pak Marolop sungguh berani datang mengunjungi mereka di dalam nama Tuhan Yesus,” ujar salah seorang pengurus yayasan.
Dalam kunjungan tersebut, suasana emosional beberapa kali terlihat. Salah seorang penghuni yayasan tampak menggenggam bantuan yang diterimanya dengan tangan gemetar sambil mengucapkan terima kasih berulang kali dengan suara lirih.
Pemandangan itu membuat Marolop tidak mampu menahan perasaannya. Ia beberapa kali terlihat menyeka air mata saat melihat kondisi para penghuni yayasan yang hidup dalam keterbatasan.
Dengan mata berkaca-kaca, ia berharap kehadirannya di tempat tersebut dapat membuka hati lebih banyak orang untuk mulai peduli terhadap sesama yang membutuhkan perhatian.
“Saya berharap dengan kehadiran saya di sini, semakin banyak orang yang tergerak untuk datang dan peduli kepada yayasan ini,” ucapnya sambil menahan tangis.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan keberadaan panti sosial dan yayasan kemanusiaan yang selama ini berjuang merawat orang-orang terlantar.
“Kita harus selalu berbagi kepada sesama. Karena kita diberkati untuk memberkati,” ujar Marolop.
Di akhir kunjungan, doa bersama dipanjatkan secara sederhana. Para pengurus dan penghuni yayasan mendoakan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan bagi kehidupan Marolop.
Tidak ada pesta mewah ataupun dekorasi megah dalam perayaan ulang tahun tersebut. Namun senyum tulus para penghuni yayasan menjadi hadiah paling indah yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa mewah seseorang merayakan hidupnya, melainkan seberapa besar hatinya untuk hadir bagi mereka yang selama ini terlupakan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar gengsi dan popularitas, tindakan sederhana yang dilakukan Marolop menghadirkan pesan mendalam bahwa kasih, perhatian, dan kepedulian kepada sesama masih menjadi hal paling berharga dalam kehidupan manusia. (SN14)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini