Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 11 Mei 2026 |15:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14975 14774 (MNA) 14550 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO KEMBAYAN
14875 14624 (MNA) 14450 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
14885 14699 (MNA) 14550 (PBI) 14975 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI dan segmen LOCO
  • Persaingan harga masih cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Dunia

Pesawat Garuda Mendadak Holding 4,5 Jam di India, Ternyata Ini Penyebabnya

pesawat garuda mendadak holding 4,5 jam di india, ternyata ini penyebabnya
Pesawat Airbus A330 Garuda Indonesia. (afp)

New Delhi, Sinata.id – Pesawat milik Garuda Indonesia mengalami insiden tidak biasa setelah harus berputar di udara selama sekitar 4,5 jam di wilayah India akibat penutupan ruang udara untuk kepentingan uji coba rudal.

Peristiwa tersebut terjadi pada penerbangan GA4208 rute Jeddah, Arab Saudi menuju Medan, Sumatera Utara, pada 8 Mei 2026. Penerbangan menggunakan pesawat Airbus A330-900neo dengan registrasi PK-GHI.

Advertisement

Dalam kondisi normal, penerbangan sejauh sekitar 4.190 mil itu biasanya ditempuh dalam waktu sekitar delapan jam. Namun akibat insiden tersebut, total durasi penerbangan membengkak menjadi 12 jam 39 menit.

Pada awal perjalanan, penerbangan berlangsung normal melintasi Arab Saudi, Oman, hingga Laut Arab. Namun saat memasuki wilayah udara selatan India, pesawat mendadak masuk ke holding pattern atau pola penahanan di udara.

Baca Juga  Israel Hentikan Sekolah dan Larang Kerumunan Usai Serangan Iran

Dalam dunia penerbangan, holding pattern merupakan prosedur umum yang dilakukan ketika pesawat harus menunggu izin melanjutkan perjalanan akibat kepadatan lalu lintas udara, antrean pendaratan, atau pembatasan wilayah udara.

Meski demikian, kasus penerbangan GA4208 menjadi sorotan karena durasi holding berlangsung sangat lama, yakni sekitar empat jam 30 menit.

Ruang Udara Ditutup untuk Uji Coba Rudal Agni-6

Berdasarkan laporan yang beredar, penutupan sebagian besar ruang udara di sekitar Teluk Benggala dilakukan Pemerintah India untuk mendukung uji coba rudal balistik Agni-6.

Aktivitas militer tersebut berdampak langsung terhadap jalur penerbangan sipil, terutama karena area penutupan berada di lintasan strategis penerbangan internasional.

Situasi ini dinilai cukup langka dalam penerbangan komersial modern. Sebab, maskapai umumnya tidak membawa cadangan bahan bakar ekstra hingga berjam-jam karena tingginya biaya avtur.

Baca Juga  Israel Perintahkan Evakuasi Massal di Lebanon, Pasukan Dikerahkan ke Perbatasan

Muncul dugaan bahwa tim operasional Garuda Indonesia telah mengantisipasi kemungkinan penutupan ruang udara sehingga menyiapkan tambahan bahan bakar sebelum keberangkatan.

Selain itu, terdapat spekulasi bahwa maskapai berharap pesawat masih dapat melewati kawasan tersebut sebelum penutupan diberlakukan, namun tetap menyiapkan skenario cadangan jika terjadi penundaan.

Pilihan Jalur Alternatif Dinilai Sulit

Sejumlah pengamat penerbangan menilai jika informasi penutupan wilayah udara sudah diketahui sebelumnya, penundaan jadwal keberangkatan sebenarnya bisa menjadi opsi yang lebih efisien dibanding membiarkan pesawat berputar selama berjam-jam di udara.

Namun, luasnya area yang ditutup membuat opsi pengalihan jalur penerbangan tidak mudah dilakukan secara efektif.

Setelah memperoleh izin melanjutkan penerbangan, pesawat GA4208 masih membutuhkan sekitar dua jam 50 menit sebelum akhirnya mendarat di Medan.

Baca Juga  Trump Klaim Perang AS vs Iran Hampir Selesai, Ancam Serangan Besar Jika Tak Ada Damai

Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa penerbangan sipil tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca dan kepadatan lalu lintas udara, tetapi juga dinamika keamanan dan aktivitas militer di wilayah udara internasional. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini