Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Diterpa Disrupsi Digital, Dewan Pers Tantang Media Naik Kelas

ketua dewan pers
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat. (Foto: Ist)

JAKARTA, Sinata.id — Gelombang disrupsi media digital dan kemunculan new media disebut bukan ancaman bagi dunia pers, melainkan ujian besar untuk membuktikan kualitas dan profesionalisme jurnalisme di era banjir informasi.

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menegaskan media massa harus mampu naik kelas di tengah derasnya arus informasi digital yang kian liar dan sulit dikendalikan.

Advertisement

“Disrupsi new media itu seperti orang rafting di sungai deras. Justru menarik karena ada ombak dan bebatuan. Kalau datar, tidak ada tantangan,” ujar Komaruddin saat menghadiri kegiatan Fun Walk Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 di Jakarta, Minggu (10/5/2026).

Menurutnya, era digital menuntut insan pers tidak sekadar cepat menyampaikan informasi, tetapi juga wajib menjaga objektivitas, etika, dan akurasi agar tetap dipercaya publik.

Baca Juga  Presiden Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang

“Media harus semakin profesional, objektif, dan reliable. Di tengah maraknya informasi liar dan disinformasi, pers harus menjadi penjaga kualitas informasi,” tegasnya.

Komaruddin menilai perkembangan teknologi digital telah membuka ruang komunikasi publik yang semakin bebas.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan ancaman serius berupa hoaks, manipulasi informasi, hingga media tanpa identitas jelas atau homeless media.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan lanskap media saat ini.

Negara dinilai perlu hadir melalui regulasi yang sehat sekaligus mendukung ekosistem pers yang profesional dan bertanggung jawab.

“Media massa bukan humas pemerintah. Pers adalah mitra sejajar yang ikut menjaga kesehatan masyarakat melalui informasi,” katanya.

Baca Juga  KPK Gelar OTT di Riau

Ia bahkan mengibaratkan hubungan pers dan pemerintah seperti dokter dan tubuh manusia.

Pers berfungsi memberi peringatan ketika ada persoalan yang harus diperbaiki dalam kehidupan publik maupun tata kelola pemerintahan.

“Pemerintah itu ibarat tubuh, pers seperti dokter yang memberi tahu bagian mana yang sakit. Selama pers bekerja profesional dan tidak menyesatkan, pemerintah justru harus berterima kasih,” ucapnya.

Dalam momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, Komaruddin juga mengingatkan bahwa kebebasan pers merupakan bagian penting dari hak asasi manusia.

Namun kebebasan tersebut tidak boleh berubah menjadi ruang bebas bagi penyebaran disinformasi.

“Kebebasan pers itu hak asasi, tetapi masyarakat juga punya hak untuk terbebas dari disinformasi,” pungkasnya.

Baca Juga  Wartawan Nyaris Diserang Saat Liputan di Lahan Sengketa PTPN IV

Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa di era digital saat ini, pertarungan media bukan lagi soal siapa paling cepat, melainkan siapa yang paling dipercaya publik. (A08)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini